Sabtu, 16 Januari 2016

PENGARUH EKSTRAK TANAMAN TAHUNAN BABADOTAN (Ageratum conyzoides L.) TERHADAP PERKECAMBAHAN BAYAM DURI (Amaranthus spinosus)

Laporan Praktium V

PENGARUH EKSTRAK TANAMAN TAHUNAN  BABADOTAN (Ageratum conyzoides L.) TERHADAP PERKECAMBAHAN BAYAM DURI (Amaranthus spinosus)

Nama               : Muhammad Asdhani
NIM                : 1305101050121
Kelas                : 1
Kelompok       : 4

                             
                                     

LABORATORIUM ILMU GULMA
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH

2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ada beberapa cara pengendalian gulma, namun yang umum dilakukan yaitu dengan cara manual dan kimiawi dengan herbisida sintesis. Pengendalian gulma dalam tanaman budidaya sampai pada saat ini hanya dilakukan dengan pengendalian manual yang memiliki banyak kelemahan seperti membutuhkan tenaga kerja lebih banyak terutama pada lahan yang luas dengan populasi gulma yang tinggi, harus dilakukan lebih dari satu kali karena pengendalian manual tidak mematikan gulma, sehingga biaya produksi semakin meningkat.
Cara yang terbaik adalah cara alternatif pengendalian gulma yang ramah lingkungan dengan penggunaan bioherbisida. Bioherbisida merupakan pengendalian gulma secara biologis yaitu suatu cara pengendalian gulma dengan menggunakan organisme hidup misalnya tumbuhan. Tumbuhan yang diduga memiliki potensi untuk digunakan sebagai bioherbisida dengan prinsip alelokemi adalah tumbuhan kirinyuh yang merupakan salah satu gulma invasive. Pada saat ini alternatif pengendalian gulma yang berawawasan lingkungan sedang marak dilakukan. Pengendalian tersebut dapat dilakukan dengan mencari potensi senyawa golongan fenol dari tumbuhan lain sehingga dapat dimanfaatkan sebagai  bioherbisida. Selain itu efek dari bioherbisida ini tidak terkena secara langsung terhadap tanaman budidaya dan mempunyai peluang kecil untuk menyebabkan pencemaran.
Gulma adalah tanaman pengganggu yang tumbuh di sekitar tanaman budidaya. Apabila tidak dikendalikan, gulma akan menimbulkan persaingan dengan tanaman budidaya yang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan tanaman dan penurunan hasil tanaman budidaya karena persaingan dengan gulma berkisar 25-50%. Untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan gulma, maka perlu dilakukan pengendalian sebelum menimbulkan persaingan dengan tanaman budidaya.
            Bandotan (Ageratum conyzoides) adalah sejenis gulma pertanian anggota suku Asteraceae. Terna semusim ini berasal dari Amerika tropis, khususnya Brazil, akan tetapi telah lama masuk dan meliar di wilayah Nusantara. Disebut juga sebagai babandotan atau babadotan (Sd.); wedusan (Jw.); dus-bedusan (Md.); rumput balam (Ptk.); serta Billygoat-weed, Goatweed, Chick weed, atau Whiteweed dalam bahasa Inggris, tumbuhan ini mendapatkan namanya karena bau yang dikeluarkannya menyerupai bau kambing
            Tumbuhan ini menyebar luas di seluruh wilayah tropika, bahkan hingga subtropika. Didatangkan ke Jawa sebelum 1860, kini gulma ini telah menyebar luas di Indonesia. Di Amerika Selatan, tumbuhan ini malah dibudidayakan; menurut catatan sejarah, bandotan memang didatangkan dari Meksiko. Bandotan sering ditemukan sebagai tumbuhan pengganggu di sawah-sawah yang mengering, ladang, pekarangan, tepi jalan, tanggul, tepi air, dan wilayah bersemak belukar. Ditemukan hingga ketinggian 3.000 m, terna ini berbunga sepanjang tahun dan dapat menghasilkan hingga 40.000 biji per individu tumbuhan. Karenanya, gulma ini dirasakan cukup mengganggu di perkebunan. Di luar Indonesia, bandotan juga dikenal sebagai gulma yang menjengkelkan di Afrika, Asia Tenggara, Australia, serta di Amerika Serikat
1.2 Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak babadotan dapat menghambat pertumbuhan gulma bayam duri (Amaranthus spinosus) dan untuk mengetahui berapakah konsentrasi ekstrak daun ketapang dapat menghambat gulma bayam duri.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Di Bogor, babadotan dikenal luas sebagai obat luka. Caranya, dengan menumbuk bandotan dan dicampur dengan minyak goreng, dan dipergunakan untuk obat luar saja. Menurut Heyne , daun tumbuhan ini diremas-remas, dicampur dengan kapur, dioleskan pada luka yang masih segar. Rebusan dari daun juga digunakan untuk obat sakit dada, sementara ekstrak daunnya untuk obat mata yang panas. Akar yang ditumbuk dioleskan ke badan Di Bogor, babadotan dikenal luas sebagai obat luka. Caranya, dengan menumbuk bandotan dan dicampur dengan minyak goreng, dan dipergunakan untuk obat luar saja.
            Menurut Heyne, daun tumbuhan ini diremas-remas, dicampur dengan kapur, dioleskan pada luka yang masih segar. Rebusan dari daun juga digunakan untuk obat sakit dada, sementara ekstrak daunnya untuk obat mata yang panas. Akar yang ditumbuk dioleskan ke badan untuk obat demam; ekstraknya dapat diminum. Daunnya bisa dijadikan obat tetes mata, dengan jalan menumbuknya; air tumbukan tersebut, bisa diteteskan ke mata untuk cuci mata. Cara ini umum di Pantai Gading. Di sana pula, bandotan dipergunakan untuk sakit perut, penyembuhan luka, dan untuk menyembuhkan patah tulang (Heyne, 1987)
            Zat yang terkandung dalam babadotan yang dilaporkan pada tahun 1987 adalah sebagai berikut: minyak esensial, alkaloid, dan kumarin. Meski demikian, tumbuhan ini juga memiliki daya racun. Di Barat, bandotan juga dimanfaatkan sebagai insektisida dan nematisida. Sementara, penelitian lain menemukan bahwa bandotan dapat menyebabkan luka-luka pada hati dan menumbuhkan tumor. Tumbuhan ini mengandung alkaloid pirolizidina. (Ming, L.C. 1999)



BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
3.1       Tempat dan Waktu
Praktikum Pengaruh Ekstrak Tanaman Tahunan babadotan (Ageratum conyzoides L.) dilaksanakan pada hari Kamis  tanggal 11 November 2015 pukul 10.00 WIB sampai selesai, di Laboratorium Ilmu Gulma, Program studi Agroteknologi , Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
3.2       Alat dan Bahan
•           Alat
-           Petridish
-           Gelas Ukur
-           Pengaduk
-           Botol
-           Pipet Tetes
-           Timbangan
•           Bahan
-           Biji Bayam Duri ( Amaranthus spinosus )
-           Larutan Tween
-           Ekstrak tanaman Babadotan (Ageratum conyzoides L. )
-           Aquades
-           Kertas Label
-           Isolatip
3.3       Cara Kerja
1. Diambil ekstrak Babadotan  untuk campuran konsentrai 1%, 2%, 3%, ekstrak daun ketapang ditimbang sebanyak konsentrasi yang diinginkan,
2. Dilarutkan ekstrak Babadotan pada aquades sebanyak 5 ml,
3. Lalu ditambahkan tween sebanyak 1 tetes sebagai campuran bahan larutan, kemudian
4. Diaduk larutan konsentrasi hingga merata sempurna, langkah ini diulang beberapa kali hingga didapatkan konsentrasi campuran 1, 2, 3%.
5. Dilapisi petridish dengan kertas, ditabur benih bayam duri (Amaranthus spinosus) sebanyak 50 butir.
6. Disiramkan larutan konsentrasi babdotam diatas susunan benih bayam, cawa petridish ditutup. Dilakukan pada masing – masing Konsentrasi.
7. Kemudian diisolatip lalu diberi kertas label, lalu diamati.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1     Hasil Pengamatan
1.  Potensi Tumbuh (PT)
Tabel 1 . Pengamatan Potensi Tumbuh
Perlakuan
Ulangan
I
II
1%
0
0
2%
0
0
3%
0
0

·       Cara Penghitungan

1.   Potensi Tumbuh
PT % = 
ü Perlakuan 1% (ulangan I dan II)
                   PT % = 
PT % = 0 %
ü Perlakuan  2% (ulangan I dan II)
PT % = 
PT % = 0 %
ü Perlakuan 3% (ulangan I dan II)
PT % = 
PT % = 0 %

2.   Daya Berkecambah

DB %  = 
ü Perlakuan 1% (ulangan I dan II)
DB % = 
PT % = 0 %
ü Perlakuan 2% (ulangan I dan II)
DB % = 
PT % = 0 %
ü Perlakuan 3% (ulangan I dan II)
DB % = 
PT % = 0 %
                     
3.   Kecepatan Tumbuh
KCT Pada hari ke-i  = 
ü  KCT Pada hari ke-3  =
 =  0 % etmal

Tabel 2. Pengamatan KCT Perlakuan 1% (ulangan I dan II)
Hari ke
Jumlah KN (%)
Nilai KCT (1% /etmal)
1
0
0
2
0
0
3
0
0
4
0
0
5
0
0
6
0
0
7
0
0
8
0
0
9
0
0
10
0
0
11
0
0
12
0
0
13
0
0
14
0
0
Total
0
0

Tabel 3. Pengamatan KCT Perlakuan 2% (ulangan I dan II)
Hari ke
Jumlah KN (%)
Nilai KCT (2% etmal)
1
0
 0
2
0
 0
3
0
 0
4
0
 0
5
0
 0
6
0
 0
7
0
 0
8
0
 0
9
0
 0
10
0
 0
11
0
 0
12
0
 0
13
0
 0
14
0
 0
Total
0
 0

Tabel 4. Pengamatan KCT Perlakuan 3% (ulangan I dan II)
Hari ke
Jumlah KN (%)
Nilai KCT (3% /etmal)
1
0
0
2
0
0
3
0
0
4
0
0
5
0
0
6
0
0
7
0
0
8
0
0
9
0
0
10
0
0
11
0
0
12
0
0
13
0
0
14
0
0
Total
0
0

4.   Keserampakan Tumbuh
KST = 

ü Perlakuan 1% (ulangan I dan II)
KST%  =
KST %  = 0 %
ü Perlakuan 2% (ulangan I dan II)
KST%  =
KST %  = 0 %
ü Perlakuan 3% (ulangan I dan II)
KST%  =
KST % = 0 %

5.   T50    =          (∑Ti . Xi)
                             ∑Xi
Keterangan      : ∑Ti      = Hari awal pengamatan sampai hari terakhir)
                           Xi       = Benih yang menunjukkan gejala tumbuh
                          ∑Xi     = Jumlah benih yang ditanam

ü Perlakuan 1% (Ulangan I dan II)
     T50
= 0 %

ü Perlakuan 2% (Ulangan I dan II)
T50
= 0 %
ü Perlakuan 3% (Ulangan I dan II)
T50 
            = 0 %
4.2     Pembahasan
            Dari data diatas di ketahui bahwa tidak ada satupun dari benih bayam duri ( Amaranthus spinosus) yang tumbuh.
          Pemberian ekstrak tanaman Babadotan (Ageratum conyzoides L. ) memberikan pengaruh yang sangat nyata dimana biji Bayam duri ( Amaranthus spinosus), dimana ekstrak dari tanaman tersebut dapt menghamabt pertumbuhan benih.


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada praktikum kali ini dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
     1. : Alkaloid, dan kumarin yang terdapat pada ekstrak babdotan diketahui dapat menghambat perkecambahan benih bayam duri.
     2. Pada konsentrasi yang ditetapkan baik 1% atau 2, 3 % benih kecambah tetap tidak menunjukkan gejala perkecambahan,
3. Hingga pengamatan pada minggu ketiga potensi tumbuh pada benih bayam duri tetap 0 .


DAFTAR PUSTAKA


Soerjani, M., AJGH Kostermans dan G. Tjitrosoepomo (Eds.). 1987. Weeds of       Rice in Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta.
Steenis, CGGJ van. 1981. Flora, untuk sekolah di Indonesia. PT Pradnya    Paramita, Jakarta. Hal. 422-423
Ming, L.C. (1999) Ageratum conyzoides: A tropical source of medicinal and           agricultural products. p. 469–473. In: J. Janick (ed.), Perspectives on new      crops and new uses. ASHS Press, Alexandria, VA.
Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3:1825-1826. Terj. Yayasan      Sarana Wana Jaya, Jakarta
Fu, P.P., Yang, Y.C., Xia, Q., Chou, M.C., Cui, Y.Y., Lin G., "Pyrrolizidine          alkaloids-tumorigenic components in Chinese herbal medicines and            dietary supplements", Journal of Food and Drug Analysis, Vol. 10, No. 4,            2002, pp. 198-211

Tidak ada komentar:

Posting Komentar