Laporan Praktium V
PENGARUH EKSTRAK TANAMAN TAHUNAN BABADOTAN (Ageratum conyzoides L.) TERHADAP PERKECAMBAHAN BAYAM DURI (Amaranthus spinosus)
Nama : Muhammad Asdhani
NIM : 1305101050121
Kelas : 1
Kelompok : 4
LABORATORIUM ILMU GULMA
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS
SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Ada beberapa cara pengendalian
gulma, namun yang umum dilakukan yaitu dengan cara manual dan kimiawi dengan
herbisida sintesis. Pengendalian gulma dalam tanaman budidaya sampai pada saat
ini hanya dilakukan dengan pengendalian manual yang memiliki banyak kelemahan
seperti membutuhkan tenaga kerja lebih banyak terutama pada lahan yang luas
dengan populasi gulma yang tinggi, harus dilakukan lebih dari satu kali karena
pengendalian manual tidak mematikan gulma, sehingga biaya produksi semakin
meningkat.
Cara yang terbaik adalah cara
alternatif pengendalian gulma yang ramah lingkungan dengan penggunaan
bioherbisida. Bioherbisida merupakan pengendalian gulma secara biologis yaitu
suatu cara pengendalian gulma dengan menggunakan organisme hidup misalnya
tumbuhan. Tumbuhan yang diduga memiliki potensi untuk digunakan sebagai
bioherbisida dengan prinsip alelokemi adalah tumbuhan kirinyuh yang merupakan
salah satu gulma invasive. Pada saat
ini alternatif pengendalian gulma yang berawawasan lingkungan sedang marak dilakukan.
Pengendalian tersebut dapat dilakukan dengan mencari potensi senyawa golongan
fenol dari tumbuhan lain sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bioherbisida. Selain itu efek dari
bioherbisida ini tidak terkena secara langsung terhadap tanaman budidaya dan
mempunyai peluang kecil untuk menyebabkan pencemaran.
Gulma adalah tanaman pengganggu
yang tumbuh di sekitar tanaman budidaya. Apabila tidak dikendalikan, gulma akan
menimbulkan persaingan dengan tanaman budidaya yang dapat menyebabkan gangguan
pertumbuhan tanaman dan penurunan hasil tanaman budidaya karena persaingan
dengan gulma berkisar 25-50%. Untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan gulma,
maka perlu dilakukan pengendalian sebelum menimbulkan persaingan dengan tanaman
budidaya.
Bandotan (Ageratum conyzoides)
adalah sejenis gulma pertanian anggota suku Asteraceae. Terna semusim ini
berasal dari Amerika tropis, khususnya Brazil, akan tetapi telah lama masuk dan
meliar di wilayah Nusantara. Disebut juga sebagai babandotan atau babadotan
(Sd.); wedusan (Jw.); dus-bedusan (Md.); rumput balam (Ptk.); serta Billygoat-weed,
Goatweed, Chick weed, atau Whiteweed dalam bahasa Inggris,
tumbuhan ini mendapatkan namanya karena bau yang dikeluarkannya menyerupai bau
kambing
Tumbuhan
ini menyebar luas di seluruh wilayah tropika, bahkan hingga subtropika.
Didatangkan ke Jawa sebelum 1860, kini gulma ini telah menyebar luas di
Indonesia. Di Amerika Selatan, tumbuhan ini malah dibudidayakan; menurut
catatan sejarah, bandotan memang didatangkan dari Meksiko. Bandotan sering
ditemukan sebagai tumbuhan pengganggu di sawah-sawah yang mengering, ladang,
pekarangan, tepi jalan, tanggul, tepi air, dan wilayah bersemak belukar.
Ditemukan hingga ketinggian 3.000 m, terna ini berbunga sepanjang tahun dan
dapat menghasilkan hingga 40.000 biji per individu tumbuhan. Karenanya, gulma
ini dirasakan cukup mengganggu di perkebunan. Di luar Indonesia, bandotan juga
dikenal sebagai gulma yang menjengkelkan di Afrika, Asia Tenggara, Australia,
serta di Amerika Serikat
1.2
Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk
mengetahui apakah ekstrak babadotan dapat menghambat pertumbuhan gulma bayam
duri (Amaranthus spinosus) dan untuk
mengetahui berapakah konsentrasi ekstrak daun ketapang dapat menghambat gulma
bayam duri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Di Bogor, babadotan
dikenal luas sebagai obat luka. Caranya, dengan menumbuk bandotan dan dicampur
dengan minyak goreng, dan dipergunakan untuk obat luar saja.
Menurut Heyne , daun tumbuhan ini diremas-remas, dicampur dengan kapur, dioleskan
pada luka yang masih segar. Rebusan dari daun juga digunakan untuk obat sakit
dada, sementara ekstrak daunnya untuk obat mata yang panas. Akar yang ditumbuk
dioleskan ke badan Di Bogor, babadotan dikenal luas sebagai obat luka. Caranya,
dengan menumbuk bandotan dan dicampur dengan minyak
goreng, dan dipergunakan untuk obat luar saja.
Menurut Heyne, daun tumbuhan ini
diremas-remas, dicampur dengan kapur, dioleskan pada luka yang masih segar. Rebusan dari daun
juga digunakan untuk obat sakit dada, sementara ekstrak daunnya untuk obat mata
yang panas. Akar yang ditumbuk dioleskan ke badan untuk obat demam; ekstraknya
dapat diminum. Daunnya
bisa dijadikan obat tetes mata, dengan jalan menumbuknya; air tumbukan tersebut, bisa
diteteskan ke mata
untuk cuci mata. Cara ini umum di Pantai
Gading. Di sana pula, bandotan dipergunakan untuk sakit perut, penyembuhan
luka, dan untuk menyembuhkan patah
tulang (Heyne, 1987)
Zat yang terkandung dalam babadotan
yang dilaporkan pada tahun 1987 adalah sebagai berikut: minyak esensial, alkaloid, dan kumarin. Meski
demikian, tumbuhan ini juga memiliki daya racun. Di Barat, bandotan juga
dimanfaatkan sebagai insektisida dan nematisida. Sementara,
penelitian lain menemukan bahwa bandotan dapat menyebabkan luka-luka pada hati dan menumbuhkan
tumor. Tumbuhan
ini mengandung alkaloid
pirolizidina. (Ming, L.C. 1999)
BAB
III
METODELOGI
PRAKTIKUM
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Pengaruh Ekstrak Tanaman
Tahunan babadotan (Ageratum
conyzoides L.) dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 11 November 2015 pukul 10.00 WIB
sampai selesai, di Laboratorium Ilmu Gulma, Program studi Agroteknologi ,
Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
3.2 Alat dan Bahan
• Alat
- Petridish
- Gelas Ukur
- Pengaduk
- Botol
- Pipet Tetes
- Timbangan
• Bahan
- Biji Bayam Duri ( Amaranthus spinosus
)
- Larutan Tween
- Ekstrak tanaman Babadotan (Ageratum conyzoides L. )
- Aquades
- Kertas Label
- Isolatip
3.3 Cara Kerja
1.
Diambil ekstrak Babadotan untuk campuran
konsentrai 1%, 2%, 3%, ekstrak daun ketapang ditimbang sebanyak konsentrasi
yang diinginkan,
2. Dilarutkan
ekstrak Babadotan pada aquades sebanyak 5 ml,
3. Lalu
ditambahkan tween sebanyak 1 tetes sebagai campuran bahan larutan, kemudian
4. Diaduk
larutan konsentrasi hingga merata sempurna, langkah ini diulang beberapa kali
hingga didapatkan konsentrasi campuran 1, 2, 3%.
5. Dilapisi
petridish dengan kertas, ditabur benih bayam duri (Amaranthus spinosus) sebanyak 50 butir.
6. Disiramkan
larutan konsentrasi babdotam diatas susunan benih bayam, cawa petridish
ditutup. Dilakukan pada masing – masing Konsentrasi.
7. Kemudian
diisolatip lalu diberi kertas label, lalu diamati.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Pengamatan
1.
Potensi Tumbuh (PT)
Tabel 1 . Pengamatan Potensi Tumbuh
Perlakuan
|
Ulangan
|
|
I
|
II
|
|
1%
|
0
|
0
|
2%
|
0
|
0
|
3%
|
0
|
0
|
·
Cara
Penghitungan
1. Potensi Tumbuh
PT % = 
ü Perlakuan 1% (ulangan I dan II)
PT % = 
PT % = 0 %
ü Perlakuan
2% (ulangan I dan II)
PT % = 
PT % = 0 %
ü Perlakuan 3% (ulangan I dan II)
PT % = 
PT % = 0 %
2. Daya Berkecambah
DB % = 
ü Perlakuan 1% (ulangan I dan II)
DB % = 
PT % = 0 %
ü Perlakuan 2% (ulangan I dan II)
DB % = 
PT % = 0 %
ü Perlakuan 3% (ulangan I dan II)
DB % = 
PT % = 0 %
3. Kecepatan Tumbuh
KCT Pada
hari ke-i = 
ü KCT Pada hari ke-3 = 
= 0 %
etmal
Tabel 2. Pengamatan KCT Perlakuan 1% (ulangan I dan II)
Hari ke
|
Jumlah KN (%)
|
Nilai KCT (1% /etmal)
|
1
|
0
|
0
|
2
|
0
|
0
|
3
|
0
|
0
|
4
|
0
|
0
|
5
|
0
|
0
|
6
|
0
|
0
|
7
|
0
|
0
|
8
|
0
|
0
|
9
|
0
|
0
|
10
|
0
|
0
|
11
|
0
|
0
|
12
|
0
|
0
|
13
|
0
|
0
|
14
|
0
|
0
|
Total
|
0
|
0
|
Tabel 3. Pengamatan KCT Perlakuan 2% (ulangan I dan II)
Hari ke
|
Jumlah KN (%)
|
Nilai KCT (2% etmal)
|
1
|
0
|
0
|
2
|
0
|
0
|
3
|
0
|
0
|
4
|
0
|
0
|
5
|
0
|
0
|
6
|
0
|
0
|
7
|
0
|
0
|
8
|
0
|
0
|
9
|
0
|
0
|
10
|
0
|
0
|
11
|
0
|
0
|
12
|
0
|
0
|
13
|
0
|
0
|
14
|
0
|
0
|
Total
|
0
|
0
|
Tabel 4. Pengamatan KCT Perlakuan 3% (ulangan I dan II)
Hari ke
|
Jumlah KN (%)
|
Nilai KCT (3% /etmal)
|
1
|
0
|
0
|
2
|
0
|
0
|
3
|
0
|
0
|
4
|
0
|
0
|
5
|
0
|
0
|
6
|
0
|
0
|
7
|
0
|
0
|
8
|
0
|
0
|
9
|
0
|
0
|
10
|
0
|
0
|
11
|
0
|
0
|
12
|
0
|
0
|
13
|
0
|
0
|
14
|
0
|
0
|
Total
|
0
|
0
|
4. Keserampakan Tumbuh
KST = 
ü Perlakuan 1% (ulangan I dan II)
KST%
=
KST
% = 0 %
ü Perlakuan 2% (ulangan I dan II)
KST%
=
KST
% = 0 %
ü Perlakuan 3% (ulangan I dan II)
KST%
=
KST
% = 0 %
5.
T50 = (∑Ti . Xi)
∑Xi
Keterangan : ∑Ti = Hari awal pengamatan sampai hari
terakhir)
Xi =
Benih yang menunjukkan gejala tumbuh
∑Xi =
Jumlah benih yang ditanam
ü Perlakuan 1% (Ulangan I dan II)
T50
= 0 %
ü Perlakuan 2% (Ulangan I dan II)
T50
= 0 %
ü Perlakuan 3% (Ulangan I dan II)
T50
= 0 %
4.2 Pembahasan
Dari data diatas di ketahui bahwa
tidak ada satupun dari benih bayam duri ( Amaranthus
spinosus) yang tumbuh.
Pemberian
ekstrak tanaman Babadotan (Ageratum conyzoides L. ) memberikan pengaruh yang sangat
nyata dimana biji Bayam
duri ( Amaranthus spinosus), dimana
ekstrak dari tanaman tersebut dapt menghamabt pertumbuhan benih.
BAB
V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Pada praktikum
kali ini dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. : Alkaloid, dan kumarin yang
terdapat pada ekstrak babdotan diketahui dapat menghambat perkecambahan benih
bayam duri.
2. Pada konsentrasi yang ditetapkan baik 1%
atau 2, 3 % benih kecambah tetap tidak menunjukkan gejala perkecambahan,
3. Hingga pengamatan pada minggu
ketiga potensi tumbuh pada benih bayam duri tetap 0 .
DAFTAR PUSTAKA
Soerjani,
M., AJGH Kostermans dan G. Tjitrosoepomo (Eds.). 1987. Weeds of Rice in Indonesia. Balai Pustaka,
Jakarta.
Steenis,
CGGJ van. 1981. Flora, untuk sekolah di Indonesia. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Hal. 422-423
Ming,
L.C. (1999) Ageratum conyzoides: A tropical source of medicinal and agricultural products. p. 469–473. In:
J. Janick (ed.), Perspectives on new crops
and new uses. ASHS Press, Alexandria, VA.
Heyne
K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3:1825-1826. Terj.
Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta
Fu,
P.P., Yang, Y.C., Xia, Q., Chou, M.C., Cui, Y.Y., Lin G., "Pyrrolizidine alkaloids-tumorigenic components in
Chinese herbal medicines and dietary
supplements", Journal of Food and Drug Analysis, Vol. 10, No. 4, 2002, pp. 198-211
Tidak ada komentar:
Posting Komentar