Laporan Praktikum II
PEMBUATAN
CAIRAN PERASAN
Nama : Muhammad Asdhani
NIM : 1305101050121
Kelas : Agroteknologi 01
Kelompok : 4
LABORATORIUM
PENGELOLAAN GULMA
PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SYIAH KUALA
DARUSSALAM
– BANDA ACEH
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alelopati berasal dari bahasa Yunani, allelon yang berarti
"satu sama lain" dan pathos yang berarti
"menderita". Alelopati didefinisikan sebagai suatu fenomena alam
dimana suatu organisme memproduksi dan mengeluarkan suatu senyawa biomolekul
(disebut alelokimia) ke lingkungan dan senyawa tersebut memengaruhi
perkembangan dan pertumbuhan organisme lain di sekitarnya (S. J. H. Rizvi dan V. Rizvi 1992).
Reaksi
alelopati telah dikemukakan oleh Bapak Botani, Theophrastus, sejak tahun 300
SM. Dia menuliskan tentang buncis yang dapat membunuh populasi gulma di
sekitarnya. Pada tahun 1 setelah Masehi, seorang cendikiawan dan naturalis Roma
bernama Gaius Plinius Secundus menuliskan tentang bagaiman buncis dan jelai
dapat berefek "menghanguskan" ladang. Selain itu, dia juga
mengemukakan bahwa pohon Walnut bersifat toksik (beracun) terhadapat tumbuhan
lain. Pada tahun 1832, Augustin Pyramus De Candolle, seorang ahli botani dan
naturalis mengemukakan bahwa tanah dapat menderita "sakit"
kemungkinan diakibatkan oleh senyawa kimia yang dikeluarkan oleh tanaman.
Penemuan mengenai alelopati semakin jelas ketika pada tahun 1907-1909, dua
orang ilmuwan bernama Schreiner dan Reed berhasil mengisolasi senyawa
fitotoksik kimia dari tanaman dan tanah. Konsep mengenai alelopati
dikemukakan pada tahun 1937 oleh Hans Molisch, seorang ahli fisiologi tanaman
asal Austria (Rick J. Willis ,2007).
1.2 Tujuan Praktikum
Mengetahui
bagaimana cara membuat cairan perasan
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
Tumbuhan
dapat menghasilkan senyawa alelokimia yang merupakan metabolit sekunder di
bagian akar, rizoma, daun, serbuk sari, bunga, batang, dan biji. Fungsi dari
senyawa alelokimia tersebut belum diketahui secara pasti, namun beberapa senyawa
tersebut dapat berfungsi sebagai pertahanan terhadap herbivora dan patogen
tanaman. Tanaman yang rentan terhadap senyawa alelokimia dari tanaman lainnya
dapat mengalami gangguan pada proses perkecambahan, pertumbuhan, serta
perkembangannya. Perubahan morfologis yang sering terjadi akibat paparan
senyawa alelokimia adalah perlambatan atau penghambatan perkecambahan biji,
perpanjangan koleoptil, radikula, tunas, dan akar (Marianne
Kruse, 2000).
Senyawa-senyawa
kimia tersebut dapat mempengaruhi tumbuhan yang lain melalui penyerapan unsur
hara, penghambatan pembelahan sel,pertumbuhan, proses fotosintesis, proses
respirasi, sintesis protein, dan proses-proses metabolisme yang lain. Pengaruh
alelopati terhadap pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut (Rohman
,2001) :
- Senyawa
alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan
kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.
- Beberapa
alelopati menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan.
- Beberapa
alelopat dapat menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran
sel tumbuhan.
- Beberapa
senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat respirasi akar.
- Senyawa
alelopati memberikan pengaruh menghambat sintesis protein.
- Beberapa
senyawa alelopati dapat menurunkan daya permeabilitas membran pada sel
tumbuhan.
- Senyawa
alelopati dapat menghambat aktivitas enzim.
Di
tegaskan bahwa senyawa alelopati dapat menyebabkan gangguan atau hambatan pada
perbanyakan dan perpanjangan sel, aktifitas giberalin dan Indole Acetid Acid (
IAA ), penyerapan hara, laju fotosintesis, respirasi, pembukaan mulut daun,
sintesa protein, aktivitas enzim tertentu dan lain-lain (Rice, 1974).
Hambatan
alelopati dapat pula berbentuk pengurangan dan kelambatan perkecambahan biji,
penahanan pertumbuhan tanaman, gangguan sistem perakaran, klorosis, layu,
bahkan kematian tanaman. Tumbuhan yang bersifat sebagai alelopati mempunyai
kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih
terhambat, dan hasilnya semakin menurun (Patrick, 1971).
Beberapa
species gulma menyaingi pertanaman dengan mengeluarkan senyawa beracun dari
akarnya (root exudates atau lechates) atau dari pembusukan bagian vegetatifnya.
Persaingan yang timbul akibat dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain
disebut alelopati dan zat kimianya disebut alelopat. Umumnya senyawa yang
dikeluarkan adalah dari golongan fenol (Ewusia, 1990).
BAB III
METODE
PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
Alat : - Kaleng
- Corong
- Saringan
- Sarung tangan
- Masker
- Lakban putih
-
Kapas
Bahan : - 200gr Rumput teki yg telah dihaluskan
- 2 liter Metanol
3.2 Cara Kerja
1.
Masukan 200gr rumput teki kedalam kaleng.
2.
Tuangkan metanol hingga rumput teki tenggelam.
3.
Tutup rapat kaleng dan berikan lakban agar penutumpan lebih rapat.
4.
Biarkan rendaman selama 2 x 24 jam.
5.
Pisahkan ampas dan cairan menggunakan saringan yang telah diletakan
kapas
sebelumnya, dan peras ampas hingga kering.
6. Tuang cairan tadi kedalam
wadah penyimpanan, dan ukur banyak ciaran
Tersebut.
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Didapatkan
ekstrak dari rumput teki sebanyak 1080ml
4.2 Pembahasan
Dari
percobaan yang telah dilakukan, didapatkan
ekstrak gulma dari 200gr rumput teki (Cyperus rotundus) yang telah direndam selama 2 x 24 jam dengan
menggunakan metanol dan mendapatkan ekstrak sebanyak 1,080 ml. warna dari
ekstrak tersebut kuning kecoklatan.
BAB V
KESIMPULAN
-
Alelopati merupakan merupakan peristiwa dari adanya pengaruh buruk dari
zat kimia (alelopat) yang dikeluarkan oleh tumbuhan tertentu yang dapat
merugikan pertumbuhan tumbuhan lain jenis yang tumbuh di sekitarnya.
-
Beberapa senyawa alelopati yang cukup potensial antara lain berasal dari
ekstrak tumbuhan alang-alang (Imperata sylindrica), akasia (Acacia mangium),
jagung (Zea mays), teki (Cyperus rotundus), dan pinus (Pinus merkussi).
-
dari hasil praktikum didapatkan 1,080 ml ektrak teki berwarna kuning
kecoklatan.
-
Senyawa-senyawa yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di
setiap organ tumbuhan.
DAFTAR
PUSTAKA
Ewusia, J.Y. 1990. Pengantar
Ekologi Tropika. Terjemahan oleh Usman Tanuwidjaja.
Marianne Kruse, Morten Strandberg,
Beate Strandberg (2000). "Ecological Effects of Allelopathic Plants – a Review". NERI Technical
Report 315: 7–53.
Patrick (1971) dalam
Salampessy (1998) dalam Tetelay (2003) dalam Ricky (2012). Alelopati.
icky-ilmutakterbatas.blogspot.co.id/2012/04/alelopati.html (diakses pada tanggal 21 oktober 2015)
Rice (1974) dalam
Salempessy (1998) dalam Tetelay
(2003) dalam Ricky (2012). Alelopati. icky-ilmutakterbatas.blogspot.co.id/2012/04/alelopati.html
(diakses pada tanggal 21 oktober
2015)
Rick J. Willis (2007). The
History of Allelopathy. Springer. ISBN 978-1-4020- 4092-4.Page.1-8
S. J. H. Rizvi, V. Rizvi (1992). Allelopathy:
basic and applied aspects. Springer. ISBN
978-0-412-39400-3.Page.1-4

Tidak ada komentar:
Posting Komentar