Sabtu, 16 Januari 2016

PEMBUATAN CAIRAN PERASAN

Laporan Praktikum II

PEMBUATAN CAIRAN PERASAN

Nama               : Muhammad Asdhani
NIM                : 1305101050121
Kelas               : Agroteknologi 01
Kelompok       : 4


 

LABORATORIUM PENGELOLAAN GULMA
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM – BANDA ACEH
2015
BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
                                    Alelopati berasal dari bahasa Yunani, allelon yang berarti "satu sama lain" dan pathos yang berarti "menderita". Alelopati didefinisikan sebagai suatu fenomena alam dimana suatu organisme memproduksi dan mengeluarkan suatu senyawa biomolekul (disebut alelokimia) ke lingkungan dan senyawa tersebut memengaruhi perkembangan dan pertumbuhan organisme lain di sekitarnya (S. J. H. Rizvi dan V. Rizvi 1992).
                                    Reaksi alelopati telah dikemukakan oleh Bapak Botani, Theophrastus, sejak tahun 300 SM. Dia menuliskan tentang buncis yang dapat membunuh populasi gulma di sekitarnya. Pada tahun 1 setelah Masehi, seorang cendikiawan dan naturalis Roma bernama Gaius Plinius Secundus menuliskan tentang bagaiman buncis dan jelai dapat berefek "menghanguskan" ladang. Selain itu, dia juga mengemukakan bahwa pohon Walnut bersifat toksik (beracun) terhadapat tumbuhan lain. Pada tahun 1832, Augustin Pyramus De Candolle, seorang ahli botani dan naturalis mengemukakan bahwa tanah dapat menderita "sakit" kemungkinan diakibatkan oleh senyawa kimia yang dikeluarkan oleh tanaman. Penemuan mengenai alelopati semakin jelas ketika pada tahun 1907-1909, dua orang ilmuwan bernama Schreiner dan Reed berhasil mengisolasi senyawa fitotoksik kimia dari tanaman dan tanah. Konsep mengenai alelopati dikemukakan pada tahun 1937 oleh Hans Molisch, seorang ahli fisiologi tanaman asal Austria (Rick J. Willis ,2007).

1.2 Tujuan Praktikum
                        Mengetahui bagaimana cara membuat cairan perasan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


                                    Tumbuhan dapat menghasilkan senyawa alelokimia yang merupakan metabolit sekunder di bagian akar, rizoma, daun, serbuk sari, bunga, batang, dan biji. Fungsi dari senyawa alelokimia tersebut belum diketahui secara pasti, namun beberapa senyawa tersebut dapat berfungsi sebagai pertahanan terhadap herbivora dan patogen tanaman. Tanaman yang rentan terhadap senyawa alelokimia dari tanaman lainnya dapat mengalami gangguan pada proses perkecambahan, pertumbuhan, serta perkembangannya. Perubahan morfologis yang sering terjadi akibat paparan senyawa alelokimia adalah perlambatan atau penghambatan perkecambahan biji, perpanjangan koleoptil, radikula, tunas, dan akar (Marianne Kruse, 2000).
                                    Senyawa-senyawa kimia tersebut dapat mempengaruhi tumbuhan yang lain melalui penyerapan unsur hara, penghambatan pembelahan sel,pertumbuhan, proses fotosintesis, proses respirasi, sintesis protein, dan proses-proses metabolisme yang lain. Pengaruh alelopati terhadap pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut (Rohman ,2001) :
  • Senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.
  • Beberapa alelopati menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan.
  • Beberapa alelopat dapat menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan.
  • Beberapa senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat respirasi akar.
  • Senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat sintesis protein.
  • Beberapa senyawa alelopati dapat menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan.
  • Senyawa alelopati dapat menghambat aktivitas enzim.
                                    Di tegaskan bahwa senyawa alelopati dapat menyebabkan gangguan atau hambatan pada perbanyakan dan perpanjangan sel, aktifitas giberalin dan Indole Acetid Acid ( IAA ), penyerapan hara, laju fotosintesis, respirasi, pembukaan mulut daun, sintesa protein, aktivitas enzim tertentu dan lain-lain (Rice, 1974).
                                    Hambatan alelopati dapat pula berbentuk pengurangan dan kelambatan perkecambahan biji, penahanan pertumbuhan tanaman, gangguan sistem perakaran, klorosis, layu, bahkan kematian tanaman. Tumbuhan yang bersifat sebagai alelopati mempunyai kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun (Patrick, 1971).
                             Beberapa species gulma menyaingi pertanaman dengan mengeluarkan senyawa beracun dari akarnya (root exudates atau lechates) atau dari pembusukan bagian vegetatifnya. Persaingan yang timbul akibat dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain disebut alelopati dan zat kimianya disebut alelopat. Umumnya senyawa yang dikeluarkan adalah dari golongan fenol (Ewusia, 1990).










BAB III
METODE PRAKTIKUM


3.1 Alat dan Bahan
Alat :                  -  Kaleng
                                                            -  Corong
                                                            -  Saringan
                                                            -  Sarung tangan
                                                            -  Masker
                                                            -  Lakban putih
                                                            -  Kapas
Bahan :  -  200gr            Rumput teki yg telah dihaluskan
                                                            -  2 liter Metanol
3.2 Cara Kerja
                        1. Masukan 200gr rumput teki kedalam kaleng.
                        2. Tuangkan metanol hingga rumput teki tenggelam.
                        3. Tutup rapat kaleng dan berikan lakban agar penutumpan lebih rapat.
                        4. Biarkan rendaman selama 2 x 24 jam.
                        5. Pisahkan ampas dan cairan menggunakan saringan yang telah diletakan
         kapas sebelumnya, dan peras ampas hingga kering.
6. Tuang cairan tadi kedalam wadah penyimpanan, dan ukur banyak ciaran
    Tersebut.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
                        Didapatkan ekstrak dari rumput teki sebanyak 1080ml

4.2 Pembahasan
                        Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan  ekstrak gulma dari 200gr rumput teki (Cyperus rotundus) yang telah direndam selama 2 x 24 jam dengan menggunakan metanol dan mendapatkan ekstrak sebanyak 1,080 ml. warna dari ekstrak tersebut kuning kecoklatan.












BAB V
KESIMPULAN

-          Alelopati merupakan merupakan peristiwa dari adanya pengaruh buruk dari zat kimia (alelopat) yang dikeluarkan oleh tumbuhan tertentu yang dapat merugikan pertumbuhan tumbuhan lain jenis yang tumbuh di sekitarnya.
-          Beberapa senyawa alelopati yang cukup potensial antara lain berasal dari ekstrak tumbuhan alang-alang (Imperata sylindrica), akasia (Acacia mangium), jagung (Zea mays), teki (Cyperus rotundus), dan pinus (Pinus merkussi).
-          dari hasil praktikum didapatkan 1,080 ml ektrak teki berwarna kuning kecoklatan.
-          Senyawa-senyawa yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di setiap organ tumbuhan.











DAFTAR PUSTAKA


Ewusia, J.Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Terjemahan oleh Usman      Tanuwidjaja.
Marianne Kruse, Morten Strandberg, Beate Strandberg (2000). "Ecological Effects            of Allelopathic Plants – a Review". NERI Technical Report 315: 7–53.
Patrick (1971) dalam Salampessy (1998) dalam Tetelay (2003) dalam Ricky           (2012). Alelopati. icky-ilmutakterbatas.blogspot.co.id/2012/04/alelopati.html           (diakses pada tanggal 21 oktober 2015)
Rice (1974) dalam Salempessy (1998) dalam Tetelay (2003) dalam Ricky  (2012).             Alelopati. icky-ilmutakterbatas.blogspot.co.id/2012/04/alelopati.html (diakses         pada tanggal 21 oktober 2015)
Rick J. Willis (2007). The History of Allelopathy. Springer. ISBN 978-1-4020-        4092-4.Page.1-8
S. J. H. Rizvi, V. Rizvi (1992). Allelopathy: basic and applied aspects. Springer.     ISBN 978-0-412-39400-3.Page.1-4


Tidak ada komentar:

Posting Komentar