Laporan Praktikum
Bioteknologi
PEMBUATAN
DAN STERILISASI MEDIA TANAM
Nama : Muhammad Asdhani
NIM : 1305101050121
Kelas : Agroteknologi 01
LABORATORIUM
KULTURJARINGAN TANAMAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNVESITAS SYIAH
KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Media tanam kultur jaringan adalah tempat tumbuhnya eksplan, bisa berupa
larutan atau padat. Media cir merupakan
campuran komponen – komponen zat kimia yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
eksplan dengan air destilasi,senfankan media padat adalah media cair tersebut
ditambahkan dengan zat pemadat agar.
Penggunaan
media cair adalah untuk kulur suspensi sel, yaitu memperbanyak kalus yang sudah
terbentuk sebelumnya guna keperluan isolasi dan kultur protoplas, atau di
gunakan untuk memperbanya embriosomatik secara cepat.
Media
tanam haris berisi semua zar yang diperlukan untuk pertumbuhan eksplan. Bahan –
bahan yang digunakan dalam media berisi campuran garam mineral sumber unsur makro
dan unsur mikro,gula protein, vitamin, dan zat pengatur tumbuh. Keberhasilan
kultur jaringan sangant di tentukan oleh komposisi media dan jenis tanaman.
Campran media yang cocok untuk jenis tanaman tertentu, belum tentu cocok untuk
jenis tanaman lain.
1.2 Tujuan Praktikum
1. Intruksional Umum
Mahasiswa
diharapkan dapat membuat media tanama untuk kultur jaringan tanaman secara umum
2. Intruksional Khusus
·
Mahasiswa
mengerti tentang pentingnya teknik aseptik pada pembuatan media kultur jaringan
tanaman.
·
Mahasiswa
mengerti dan mampu meracik media tanam yang akan digunakan untuk kultur jarinan
tanaman.
·
Mahasiswa
mengerti cara mengatrasi kontaminas yang mungkin bisa terjadi dalam pembuatan
media untuk kultur jaringan tanaman
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.
Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan
diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin
dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula
(sebagai sumber energi), dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang
ditambahkan juga bervariasi, baik jenis maupun jumlahnya, tergantung dengan
tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan
pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus
disterilkan dengan cara memanaskannya menggunakan autoklaf (Yuniastuti. 2012).
Keberhasilan
penggunaan metode kultur jaringan sangat tergantung pada media yang digunakan.
Media kultur jaringan menyediakan tidak banyak unsure hara – unsure hara makro
dan mikro, tetapi yang kabohidrat yang pada umnya beberapa gula untuk
menggantikan karbon yang didapat dari fotosintetis. Penggunaan media ½ MS+IBA
dengan konsentrasi antara 10 sampai dengan 100 mg/l yang ditambah dengan ZPT
NAA 1mg/l mampu mengindukasi akar sampai 70%. Kombinasi ZPT auksin dan
sitokinin yang diberikan bersamaan kedalam media yang sama nampaknya selalau
berhasil ( Herawan dan M. Na”iem, 2006 )
Auksin
yang biasa digunakan dalam kultur jaringan adalah IAA. Interaksi antara auksin
dan sitokinin yang diberikan pada media yang diproduksi secara endogen oleh
tanaman menentukan arah perkembangan suatu kultur tanaman. Sitokinin digunakan
untuk pembelahan sel terutama bila ditambahkan dengan auksin. Zat pengatur
tumbuh mempunyai peran yang sangat penting dalam mengatur pertumbuhan dan
perkembangan eksplan dalam kultur. Pertumbuhan dan morfogenesis dalam budidaya
jaringan diatur oleh interaksi dan keseimbangan antara pemberian ZPT pada media
dengan hormon endogen yang terdapat dalam eksplan (Hidayat, 2002).
Kultur jaringan atau biakan jaringan merupakan teknik pemeliharaan jaringan
atau bagian dari individu secara buatan (artifisial). Yang dimaksud secara
buatan adalah dilakukan di luar individu yang bersangkutan. Karena itu teknik
ini sering kali disebut kultur in
vitro, sebagai lawan dari in vivo. Dikatakan in vitro
(bahasa
Latin, berarti "di dalam kaca") karena jaringan dibiakkan di
dalam tabung inkubasi atau cawan
petri dari kaca
atau material tembus pandang lainnya. Kultur jaringan secara teoretis dapat
dilakukan untuk semua jaringan, baik dari tumbuhan
maupun hewan
(termasuk manusia)
namun masing-masing jaringan memerlukan komposisi media
tertentu (Anonim, 2008).
Pertumbuhan tanaman in vitro sebagian besar dipengaruhi
oleh komposisi media kultur. Komponen media yang utama dalam kultur jaringan
tanaman yaitu garam, mineral dan gula sebagai sumber karbon dan air. Komponen
lain merupakan tambahan organik, pengatur pertumbuhan, gell agar. Terdapat 13
komposisi media dalam kultur jaringan antara lain Murashige dan Skoog (MS),
Linsmaier dan Skoog (LS), Woody Plant Medium (WPM), Knop, Knudson-C, Anderson
dan lain-lain. Meskipun beberapa jumlah komposisi dirubah untuk langkah-langkah
kultur jaringan dan spesies tanaman berbeda, media MS (Murashige dan Skoog,
1962) dan LS (Linsmaier dan Skoog, 1965) paling banyak digunakan dalam kultur
jaringan tanaman (Prakash et al., 2004).
Tujuan utama kultur
jaringan tanaman yaitu untuk perbanyakan bagian tanaman. Perbanyakan dapat
dilakukan dengan cara merangsang pertumbuhan tunas cabang dan percabangan
aksiler atau merangsang terbentuknya tunas pucuk tanaman secara adventif, baik
secara langsung maupun kalus terlebih dahulu. Bagian-bagian tanaman dapat
tumbuh secara optimal apabila menggunakan media tepat yang digunakan untuk
pemenuhan nutrisi tanaman. Media yang digunakan harus mengandung mineral, gula,
vitamin dan hormon dengan perbandingan yang dibutuhkan secara tepat. Media
perlu ditambahkan agar untuk mendapatkan media semi padat yang fungsinya untuk
meletakkan atau membenamkan jaringan tanaman (Wetherell, 1976).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari
rabu tanggal 21 Oktober 2015. Bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman,
Faultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala.
3.2 Alat dan Bahan
Alat
·
Beaker Glass
·
Stirer Mixer
·
Autoclave
·
Botol Media
Bahan
·
10 ml Larutan stok MS (A, B, C, D, E,
F, Vitamin, dan Mio-inositol)
·
30 gr Gula
·
1000 ml Aquades
·
8 gr Agar
·
20 ml larutan stok 2,4-D
3.3 Cara Kerja
1.
Tuangkan
aquades kedalam Beaker Glass berukuran 1000 ml, sebanyak 500 ml.
2.
Masukan
10 ml stok MS (A, B, C, D, E, F, Vitamin, dan Mio-inositol).
3.
Masukan
20 ml stok 2,4-D.
4.
Tambahkan 30 gr gula.
5.
Tambahkan
aquades hinggal larutan mencapai 1000 ml.
6.
Letakan
Beaker Glas berisi larutan tadi di atas Stirer mixer, dan masukan batang magnet
mixer.
7.
Hidupkan
mixer serta pemanas secukupnya.
8.
Tuang
secara perahan agar sebanyak 8 gr
9.
Tunggu
larutan hingga homogen, dan tuang kedalam botol kultur yang sudah di sterilkan
secukupnya.
10.
Masukan
ke dalam autoclave dengan temperatur 121oC, selama 15 menit.
11.
Inkubasikan
media dalam ruang inkubator selama 2-5 hari sebelum digunakan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Kultur Jaringan. id.wikipedia.org/wiki/Kultur_jaringan.
Diakses pada tanggal 2 Desember
2015.
Hidayat. 2002. Respon Subkultur Pisang Canvedish Terhadap Naphtalene Acetic Acid dan Benzil Aminopuryn. Buletin
Pertanian dan Peternakan. Vol 3(5):1-10.
Nugroho, A dan Sudito. 2000. Teknik Kultur Jaringan. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Prakash et al., 2004, dalam Annisa,
2012, Pembuatan Media MS Kultur Jaringan Tanaman, ayatersenyu.blogspot.com/2012/06/ pembuatan
-media-ms- kultur- jaringan .Html. Diakses
pada tanggal 2 Desember 2015.
T
. Herawan dan M. Na”iem. 2006. pengaruh
Jenis Madia dan Konsentrasi ZPT Kinetin
Terhadap Perakaran Pada Kultur Jaringan Cendana ( Santalum album Linn
). Agrosains Volume 19 ( 2 ) : 198.
Yuniastuti, Endang. 2012. Petunjuk
Praktikum Kultur Jaringan. Surakarta.
Wetherell, 1976, dalam Annisa, 2012, Pembuatan Media MS Kultur Jaringan Tanaman, ayatersenyu.blogspot.com/2012/06/ pembuatan -media-ms- kultur- jaringan .Html. Diakses pada tanggal 2
Desember 2015.
Zuyasna,
2015, Penuntun Praktikum Bioteknologi
Pertanian, Universitas Syiah Kuala.
Banda Aceh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar