Sabtu, 16 Januari 2016

PEMBUATAN DAN STERILISASI MEDIA TANAM

Laporan Praktikum Bioteknologi


PEMBUATAN DAN STERILISASI MEDIA TANAM



                                           Nama                       : Muhammad Asdhani
                                           NIM                         : 1305101050121
                                           Kelas                       : Agroteknologi 01










LABORATORIUM KULTURJARINGAN TANAMAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNVESITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Media tanam kultur jaringan adalah tempat tumbuhnya eksplan, bisa berupa larutan  atau padat. Media cir merupakan campuran komponen – komponen zat kimia yang dibutuhkan untuk pertumbuhan eksplan dengan air destilasi,senfankan media padat adalah media cair tersebut ditambahkan dengan zat pemadat agar.
            Penggunaan media cair adalah untuk kulur suspensi sel, yaitu memperbanyak kalus yang sudah terbentuk sebelumnya guna keperluan isolasi dan kultur protoplas, atau di gunakan untuk memperbanya embriosomatik secara cepat.
            Media tanam haris berisi semua zar yang diperlukan untuk pertumbuhan eksplan. Bahan – bahan yang digunakan dalam media berisi campuran garam mineral sumber unsur makro dan unsur mikro,gula protein, vitamin, dan zat pengatur tumbuh. Keberhasilan kultur jaringan sangant di tentukan oleh komposisi media dan jenis tanaman. Campran media yang cocok untuk jenis tanaman tertentu, belum tentu cocok untuk jenis tanaman lain.

1.2 Tujuan Praktikum
1.      Intruksional Umum
            Mahasiswa diharapkan dapat membuat media tanama untuk kultur jaringan            tanaman secara umum
2.      Intruksional Khusus
·         Mahasiswa mengerti tentang pentingnya teknik aseptik pada pembuatan media kultur jaringan tanaman.
·         Mahasiswa mengerti dan mampu meracik media tanam yang akan digunakan untuk kultur jarinan tanaman.
·         Mahasiswa mengerti cara mengatrasi kontaminas yang mungkin bisa terjadi dalam pembuatan media untuk kultur jaringan tanaman



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Media merupakan faktor penentu  dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula (sebagai sumber energi), dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenis maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya menggunakan autoklaf (Yuniastuti. 2012).
            Keberhasilan penggunaan metode kultur jaringan sangat tergantung pada media yang digunakan. Media kultur jaringan menyediakan tidak banyak unsure hara – unsure hara makro dan mikro, tetapi yang kabohidrat yang pada umnya beberapa gula untuk menggantikan karbon yang didapat dari fotosintetis. Penggunaan media ½ MS+IBA dengan konsentrasi antara 10 sampai dengan 100 mg/l yang ditambah dengan ZPT NAA 1mg/l mampu mengindukasi akar sampai 70%. Kombinasi ZPT auksin dan sitokinin yang diberikan bersamaan kedalam media yang sama nampaknya selalau berhasil ( Herawan dan M. Na”iem, 2006 )
            Auksin yang biasa digunakan dalam kultur jaringan adalah IAA. Interaksi antara auksin dan sitokinin yang diberikan pada media yang diproduksi secara endogen oleh tanaman menentukan arah perkembangan suatu kultur tanaman. Sitokinin digunakan untuk pembelahan sel terutama bila ditambahkan dengan auksin. Zat pengatur tumbuh mempunyai peran yang sangat penting dalam mengatur pertumbuhan dan perkembangan eksplan dalam kultur. Pertumbuhan dan morfogenesis dalam budidaya jaringan diatur oleh interaksi dan keseimbangan antara pemberian ZPT pada media dengan hormon endogen yang terdapat dalam eksplan (Hidayat, 2002).
            Kultur jaringan atau biakan jaringan merupakan teknik pemeliharaan jaringan atau bagian dari individu secara buatan (artifisial). Yang dimaksud secara buatan adalah dilakukan di luar individu yang bersangkutan. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro, sebagai lawan dari in vivo. Dikatakan in vitro (bahasa Latin, berarti "di dalam kaca") karena jaringan dibiakkan di dalam tabung inkubasi atau cawan petri dari kaca atau material tembus pandang lainnya. Kultur jaringan secara teoretis dapat dilakukan untuk semua jaringan, baik dari tumbuhan maupun hewan (termasuk manusia) namun masing-masing jaringan memerlukan komposisi media tertentu (Anonim, 2008).
            Pertumbuhan tanaman in vitro sebagian besar dipengaruhi oleh komposisi media kultur. Komponen media yang utama dalam kultur jaringan tanaman yaitu garam, mineral dan gula sebagai sumber karbon dan air. Komponen lain merupakan tambahan organik, pengatur pertumbuhan, gell agar. Terdapat 13 komposisi media dalam kultur jaringan antara lain Murashige dan Skoog (MS), Linsmaier dan Skoog (LS), Woody Plant Medium (WPM), Knop, Knudson-C, Anderson dan lain-lain. Meskipun beberapa jumlah komposisi dirubah untuk langkah-langkah kultur jaringan dan spesies tanaman berbeda, media MS (Murashige dan Skoog, 1962) dan LS (Linsmaier dan Skoog, 1965) paling banyak digunakan dalam kultur jaringan tanaman (Prakash et al., 2004).
            Tujuan utama kultur jaringan tanaman yaitu untuk perbanyakan bagian tanaman. Perbanyakan dapat dilakukan dengan cara merangsang pertumbuhan tunas cabang dan percabangan aksiler atau merangsang terbentuknya tunas pucuk tanaman secara adventif, baik secara langsung maupun kalus terlebih dahulu. Bagian-bagian tanaman dapat tumbuh secara optimal apabila menggunakan media tepat yang digunakan untuk pemenuhan nutrisi tanaman. Media yang digunakan harus mengandung mineral, gula, vitamin dan hormon dengan perbandingan yang dibutuhkan secara tepat. Media perlu ditambahkan agar untuk mendapatkan media semi padat yang fungsinya untuk meletakkan atau membenamkan jaringan tanaman (Wetherell, 1976).








BAB III
METODOLOGI PERCOBAN

3.1 Waktu dan Tempat
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari rabu tanggal 21 Oktober 2015. Bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Faultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala.

3.2 Alat dan Bahan
            Alat
·         Beaker Glass
·         Stirer Mixer
·         Autoclave
·         Botol Media
            Bahan
·         10 ml Larutan stok MS (A, B, C, D, E, F, Vitamin, dan Mio-inositol)
·         30 gr Gula
·         1000 ml Aquades
·         8 gr Agar
·         20 ml larutan stok 2,4-D

3.3 Cara Kerja
1.      Tuangkan aquades kedalam Beaker Glass berukuran 1000 ml, sebanyak 500 ml.
2.      Masukan 10 ml stok MS (A, B, C, D, E, F, Vitamin, dan Mio-inositol).
3.      Masukan 20 ml stok 2,4-D.
4.      Tambahkan 30 gr gula.
5.      Tambahkan aquades hinggal larutan mencapai 1000 ml.
6.      Letakan Beaker Glas berisi larutan tadi di atas Stirer mixer, dan masukan batang magnet mixer.
7.      Hidupkan mixer serta pemanas secukupnya.
8.      Tuang secara perahan agar sebanyak 8 gr
9.      Tunggu larutan hingga homogen, dan tuang kedalam botol kultur yang sudah di sterilkan secukupnya.
10.  Masukan ke dalam autoclave dengan temperatur 121oC, selama 15 menit.
11.  Inkubasikan media dalam ruang inkubator selama 2-5 hari sebelum digunakan


























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.2 Pembahasan










BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

5.2 Saran









DAFTAR PUSTAKA



Anonim. 2008. Kultur Jaringan. id.wikipedia.org/wiki/Kultur_jaringan.      Diakses pada tanggal 2 Desember 2015.

Hidayat. 2002. Respon Subkultur Pisang Canvedish Terhadap Naphtalene Acetic   Acid dan Benzil Aminopuryn. Buletin Pertanian dan Peternakan. Vol             3(5):1-10.

Nugroho, A dan Sudito. 2000. Teknik Kultur Jaringan. Jakarta: Penebar Swadaya.

Prakash et al., 2004, dalam Annisa, 2012, Pembuatan Media MS Kultur Jaringan   Tanaman, ayatersenyu.blogspot.com/2012/06/ pembuatan -media-ms-  kultur- jaringan .Html. Diakses pada tanggal 2 Desember 2015.

T . Herawan dan M. Na”iem. 2006. pengaruh Jenis Madia dan Konsentrasi ZPT    Kinetin Terhadap Perakaran Pada Kultur Jaringan Cendana ( Santalum         album Linn ). Agrosains Volume 19 ( 2 ) : 198.

Yuniastuti, Endang. 2012. Petunjuk Praktikum Kultur Jaringan. Surakarta.

Wetherell, 1976, dalam Annisa, 2012, Pembuatan Media MS Kultur Jaringan        Tanaman, ayatersenyu.blogspot.com/2012/06/ pembuatan -media-ms-  kultur- jaringan .Html. Diakses pada tanggal 2 Desember 2015.

Zuyasna, 2015, Penuntun Praktikum Bioteknologi Pertanian, Universitas Syiah      Kuala. Banda Aceh.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar