Sabtu, 16 Januari 2016

ETNOBOTANI : HERBARIUM

Laporan Pratikum IV


ETNOBOTANI : HERBARIUM

   Nama          :Muhammad Asdhani
   NIM            :1305101050121         
   Kelas          :1 (satu)
   Kelompok   : 4



 

LABORATORIUM ILMU GULMA
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2015

BAB 1 PENDAHULUAN

            Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh Turnefor (1700) untuk tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca Ghini (1490-1550) seorang Professor Botani di Universitas Bologna, Italia adalah orang pertama yang mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan melekatkannya di atas kertas serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah (Ramadhanil, 2003).
            Herbarium dibuat dari spesimen yang telah dewasa, tidak terserang hama, penyakit atau kerusakan fisik lain. Tumbuhan berhabitus pohon dan semak disertakan ujung batang, daun, bunga dan buah, sedang tumbuhan berbentuk herba disertakan seluruh habitus. Herbarium kering digunakan untuk spesimen yang mudah dikeringkan, misalnya daun, batang, bunga dan akar, sedangkan herbarium basah digunakan untuk spesimen yang berair dan lembek, misalnya buah (Setyawan dkk, 2005).
            Herbarium dapat dimanfaatkan sebagai bahan rujukan untuk mentakrifkan takson tumbuhan, ia mempunyai holotype untuk tumbuhan tersebut. Herbarium juga dapat digunakan sebagai bahan penelitian untuk para ahli bunga atau ahli taksonomi, untuk mendukung studi ilmiah lainnya seperti survey ekologi, studi fitokimia, penghitungan kromosom, melakukan analisa perbandingan biologi dan berperan dalam mengungkap kajian evolusi. Kebermanfaatan herbarium yang sangat besar ini menuntut perawatan dan pengelolaan spesimen harus dilakukan dengan baik dan benar (Setyawan dkk, 2005).
Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak dikehendaki terutama di tempat manusia bermaksud mengusahakan tanaman budidaya. Keberadaan gulma pada areal tanaman budidaya dapat menimbulkan kerugian baik dari segi kuantitas maupun kualitas produksi. Kerugian yang ditimbulkan oleh gulma adalah penurunan hasil pertanian akibat persaingan dalam perolehan air, unsur hara dan tempat hidup, penurunan kualitas hasil, menjadi inang hama dan penyakit, membuat tanaman keracunan akibat senyawa racun atau alelopati (Rukmana, 1996).
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

            Pteridophyta adalah tumbuhan paku yang menghasilkan spora dan umumnya mempunyai susunan daun yang membentuk bangun sayap serta pada bagian pucuk tumbuhan itu terdapat bulu-bulu. Tumbuhan paku memperlihatkan pergiliran keturunan yang sangat jelas, dimana fase gametofitnya berumur pendek dengan ukuran yang kecil dan masih berbentuk thallus yang disebut protalium. Adapun fase sporofitnya terlihat jelas dan dominan. Fase ini adalah bentuk tumbuhan yang biasa kita lihat, yaitu tumbuhan paku.
Klasifikasi pakis pedang ( Nephrolepis bisserata )
Klasifikasi Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Divisi: Pteridophyta
Kelas: Pteridopsida
Sub Kelas: Polypoditae
Ordo: Polypodiales
Famili : Dryopterydaceae
 Genus : Nephrolepis
Spesies: Nephrolepis biserrata (Sw.) Schott

Epifit adalah tumbuhan yang hidupnya menempel pada tumbuhan lain sebagai peno- pang tidak berakar pada tanah, berukuran le- bih kecil dari tumbuhan penopang atau inang, tetapi tidak menimbulkan akibat apa-apa terha dap tumbuhan penopang (Kusumaningrum, 2008). Epifit berbeda dengan parasite karena epifit mempunyai akar untuk menghisap air dan nutrisi yang terlarut dan mampu mengha-silkan makanan sendiri (Kusumaningrum, 2008). Hipotesis penelitian yang diajukan ialah terdapat lebih dari 5 jenis tumbuhan paku pada batang tanaman kelapa sawit di lingkungan Universitas Brawijaya.
Tumbuhan paku, pengertian dan ciri-cirinya. Tumbuhan paku adalah sekelompok tumbuhan yang memiliki sistem pembuluh sejati (Tracheophyta), meskipun tumbuhan ini tidak pernah menghasilkan biji untuk berkembang biak. Tumbuhan paku disebut juga sebagai paku-pakuan atau pakis-pakisan. Dalam bahasa Inggris tumbuhan ini dikenal sebagai ‘fern’.Karena reproduksi seksualnya tidak menggunakan biji, kelompok tumbuhan paku menggunakan spora untuk berkembang biak. Cara perkembangbiakannya ini lebih menyerupai kelompok organisme lumut dan fungi.
Tumbuhan paku dapat ditemukan tumbuh hampir di seluruh dunia, kecuali di daerah bersalju abadi dan lautan. Tumbuhan paku juga  banyak hidup di Indonesia, apalagi sebagian besar anggota paku-pakuan tumbuh di daerah tropika basah. Di seluruh dunia dikenal hingga 12.000 spesies tumbuhan paku dan sekitar seperempatnya dapat dijumpai di kawasan Malesia yang mencakup Indonesia.















BAB III METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Waktu dan tempat
            Adapun tempat dilaksanakan pratikum Etnobotani Herbarium ini dilaboratorium gulma Fakultas pertanian , Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh. Pada hari Kamis tanggal 29 Oktober 2015 pukul 10:00 sampai selesai.
3.2 Bahan dan alat
1. Etanol ( alkohol ) 70%
2. Gulma yang akan dijadikan herbarium
3. Kertas koran
4. Gunting
5. Isolasi
3.3 Cara kerja
1. Cuci bersih gulma dari sisa-sisa tanah yang menempel dan kotoran lain.
2. Kemidian basahkan seluruh bagian gulma hingga rata dengan alkohol.
3. Setelah itu letakkan pada kertas koran, diberi isolasi agar tidak lepas.
4. Kemdian setelah gulma kering, maka tempelkan pada kertas HVS dan berikan beberapa informasi yang ditempel disamping herbarium gulma tersebut, yang berupa: tanggal pengambilan, tanggal pengeringan dan setelah pengeringan, lokasi pengambilan, ketinggian lokasi dan perubahan yang terjadi pada gulma sebelum dan sesudah pengeringan.





BAB IV KESIMPULAN


1.      Epifit adalah tumbuhan yang hidupnya menempel pada tumbuhan lain sebagai peno- pang tidak berakar pada tanah, berukuran le- bih kecil dari tumbuhan penopang atau inang, tetapi tidak menimbulkan akibat apa-apa terhadap tumbuhan penopang.
2.      Gulma juga memiliki banyak manfaat baik di jadikan sebagai bahan baku indurstri, sebangai mulsa dan penutup alami tanah dan dapat mencegah terjadinya erosi.
3.      Di seluruh dunia dikenal hingga 12.000 spesies tumbuhan paku dan sekitar seperempatnya dapat dijumpai di kawasan Malesia yang mencakup Indonesia.













DAFTAR PUSTAKA


Ramadhanil. 2003. Herbarium Celebense (CEB) dan Peranannya dalam
Menunjang PenelitianTaksonomi Tumbuhan di Sulawesi. UNS. Solo.
Setyawan,  A. D, Indrowuryatno, Wiryanto, Winanrno, K  dan  Susilowati,  A.
2005. Tumbuhan Mangrove di Pesisir Jawa Tengah. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Suyitno, A.L.2004. Penyiapan Specimen Awetan  Objek  Biologi. Jurusan Biologi
FMIPA UNY. Yogyakarta.Swadaya. Jakarta.
Rukmana, R & Y. Yuniarsih. 1996. Kedelai Budidaya dan pasca panen. Kanisius.
Yogyakarta.
Sukman, Y. dan Yakup. 2002. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Penebar

Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar