Laporan Pratikum IV
ETNOBOTANI
: HERBARIUM
Nama
:Muhammad Asdhani
NIM :1305101050121
Kelas
:1 (satu)
Kelompok
: 4
LABORATORIUM
ILMU GULMA
PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM
BANDA ACEH
2015
BAB 1
PENDAHULUAN
Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan
oleh Turnefor (1700) untuk tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca
Ghini (1490-1550) seorang Professor Botani di Universitas Bologna, Italia
adalah orang pertama yang mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan
melekatkannya di atas kertas serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah
(Ramadhanil, 2003).
Herbarium dibuat dari spesimen yang telah dewasa, tidak
terserang hama, penyakit atau kerusakan fisik lain. Tumbuhan berhabitus pohon
dan semak disertakan ujung batang, daun, bunga dan buah, sedang tumbuhan
berbentuk herba disertakan seluruh habitus. Herbarium kering digunakan untuk
spesimen yang mudah dikeringkan, misalnya daun, batang, bunga dan akar,
sedangkan herbarium basah digunakan untuk spesimen yang berair dan lembek,
misalnya buah (Setyawan dkk, 2005).
Herbarium dapat dimanfaatkan sebagai bahan rujukan untuk
mentakrifkan takson tumbuhan, ia mempunyai holotype untuk tumbuhan tersebut.
Herbarium juga dapat digunakan sebagai bahan penelitian untuk para ahli bunga
atau ahli taksonomi, untuk mendukung studi ilmiah lainnya seperti survey
ekologi, studi fitokimia, penghitungan kromosom, melakukan analisa perbandingan
biologi dan berperan dalam mengungkap kajian evolusi. Kebermanfaatan herbarium
yang sangat besar ini menuntut perawatan dan pengelolaan spesimen harus
dilakukan dengan baik dan benar (Setyawan dkk, 2005).
Gulma
merupakan tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak dikehendaki terutama di
tempat manusia bermaksud mengusahakan tanaman budidaya. Keberadaan gulma pada
areal tanaman budidaya dapat menimbulkan kerugian baik dari segi kuantitas
maupun kualitas produksi. Kerugian yang ditimbulkan oleh gulma adalah penurunan
hasil pertanian akibat persaingan dalam perolehan air, unsur hara dan tempat
hidup, penurunan kualitas hasil, menjadi inang hama dan penyakit, membuat
tanaman keracunan akibat senyawa racun atau alelopati (Rukmana, 1996).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pteridophyta
adalah tumbuhan paku yang menghasilkan spora dan umumnya mempunyai susunan daun
yang membentuk bangun sayap serta pada bagian pucuk tumbuhan itu terdapat
bulu-bulu. Tumbuhan paku memperlihatkan pergiliran keturunan yang sangat jelas,
dimana fase gametofitnya berumur pendek dengan ukuran yang kecil dan masih
berbentuk thallus yang disebut protalium. Adapun fase sporofitnya terlihat
jelas dan dominan. Fase ini adalah bentuk tumbuhan yang biasa kita lihat, yaitu
tumbuhan paku.
Klasifikasi
pakis pedang ( Nephrolepis bisserata
)
Klasifikasi Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Divisi: Pteridophyta
Kelas: Pteridopsida
Sub Kelas: Polypoditae
Ordo: Polypodiales
Famili : Dryopterydaceae
Genus :
Nephrolepis
Spesies: Nephrolepis biserrata (Sw.) Schott
Epifit
adalah tumbuhan yang hidupnya menempel pada tumbuhan lain sebagai peno- pang
tidak berakar pada tanah, berukuran le- bih kecil dari tumbuhan penopang atau
inang, tetapi tidak menimbulkan akibat apa-apa terha dap tumbuhan penopang
(Kusumaningrum, 2008). Epifit berbeda dengan parasite karena epifit mempunyai
akar untuk menghisap air dan nutrisi yang terlarut dan mampu mengha-silkan
makanan sendiri (Kusumaningrum, 2008). Hipotesis penelitian yang diajukan ialah
terdapat lebih dari 5 jenis tumbuhan paku pada batang tanaman kelapa sawit di
lingkungan Universitas Brawijaya.
Tumbuhan paku, pengertian
dan ciri-cirinya. Tumbuhan paku
adalah sekelompok tumbuhan yang memiliki sistem pembuluh sejati (Tracheophyta), meskipun tumbuhan ini
tidak pernah menghasilkan biji untuk berkembang biak. Tumbuhan paku disebut juga sebagai paku-pakuan atau
pakis-pakisan. Dalam bahasa Inggris tumbuhan ini dikenal sebagai ‘fern’.Karena
reproduksi seksualnya tidak menggunakan biji, kelompok tumbuhan paku menggunakan spora untuk berkembang biak. Cara
perkembangbiakannya ini lebih menyerupai kelompok organisme lumut dan fungi.
Tumbuhan paku dapat ditemukan tumbuh hampir di seluruh
dunia, kecuali di daerah bersalju abadi dan lautan. Tumbuhan paku juga
banyak hidup di Indonesia, apalagi sebagian besar anggota paku-pakuan tumbuh di
daerah tropika basah. Di seluruh dunia dikenal hingga 12.000 spesies tumbuhan
paku dan sekitar seperempatnya dapat dijumpai di kawasan Malesia yang mencakup
Indonesia.
BAB
III METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Waktu dan tempat
Adapun tempat dilaksanakan pratikum Etnobotani Herbarium
ini dilaboratorium gulma Fakultas pertanian , Universitas Syiah Kuala,
Darussalam Banda Aceh. Pada hari Kamis tanggal 29 Oktober 2015 pukul 10:00
sampai selesai.
3.2 Bahan dan alat
1. Etanol ( alkohol ) 70%
2. Gulma yang akan
dijadikan herbarium
3. Kertas koran
4. Gunting
5. Isolasi
3.3 Cara kerja
1. Cuci bersih gulma dari
sisa-sisa tanah yang menempel dan kotoran lain.
2. Kemidian basahkan
seluruh bagian gulma hingga rata dengan alkohol.
3. Setelah itu letakkan
pada kertas koran, diberi isolasi agar tidak lepas.
4. Kemdian setelah gulma
kering, maka tempelkan pada kertas HVS dan berikan beberapa informasi yang
ditempel disamping herbarium gulma tersebut, yang berupa: tanggal pengambilan,
tanggal pengeringan dan setelah pengeringan, lokasi pengambilan, ketinggian
lokasi dan perubahan yang terjadi pada gulma sebelum dan sesudah pengeringan.
BAB IV
KESIMPULAN
1.
Epifit
adalah tumbuhan yang hidupnya menempel pada tumbuhan lain sebagai peno- pang
tidak berakar pada tanah, berukuran le- bih kecil dari tumbuhan penopang atau
inang, tetapi tidak menimbulkan akibat apa-apa terhadap tumbuhan penopang.
2.
Gulma juga memiliki
banyak manfaat baik di jadikan sebagai bahan baku indurstri, sebangai mulsa dan
penutup alami tanah dan dapat mencegah terjadinya erosi.
3. Di seluruh dunia dikenal hingga 12.000 spesies
tumbuhan paku dan sekitar seperempatnya dapat dijumpai di kawasan Malesia yang
mencakup Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Ramadhanil. 2003. Herbarium Celebense (CEB) dan Peranannya
dalam
Menunjang PenelitianTaksonomi Tumbuhan di Sulawesi. UNS. Solo.
Setyawan, A. D, Indrowuryatno, Wiryanto, Winanrno,
K dan
Susilowati, A.
2005. Tumbuhan Mangrove di Pesisir Jawa Tengah.
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Suyitno, A.L.2004. Penyiapan Specimen Awetan Objek
Biologi. Jurusan Biologi
FMIPA UNY.
Yogyakarta.Swadaya. Jakarta.
Rukmana, R & Y. Yuniarsih. 1996. Kedelai Budidaya dan pasca panen. Kanisius.
Yogyakarta.
Sukman, Y. dan Yakup. 2002. Gulma
dan Teknik Pengendaliannya.
Penebar
Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar