Laporan Praktium IV
ANALISIS VEGETASI
Nama : Muhammad Asdhani
NIM : 1305101050121
Kelas : 1
Kelompok : 4
LABORATORIUM ILMU GULMA
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS
SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Analisis vegetasi merupakan cara
yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar sebaran berbagai spesies dalam
suatu area melaui pengamatan langsung. Dilakukan dengan membuat plot dan
mengamati morfologi serta identifikasi vegetasi yang ada. Kehadiran vegetasi
pada suatu landscape akan memberikan dampak positif bagi keseimbangan ekosistem
dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan vegetasi dalam suatu ekosistem
terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon dioksida dan oksigen dalam udara,
perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah, pengaturan tata air tanah dan
lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan
dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan
komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara
umum akan mengurangi laju erosi tanah, tetapi besarnya tergantung struktur dan
komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebuSesuai dengan
keadaan vegetasi di suatu lahan, maka pemilihan metode pemilihan analisis yang
tepat dapat memberikan hasil yang lebih mendekati dari kenyataan yang
sesungguhnya di lapangan.Misalnya untuk evaluasi hasil dari tindakan
pengendalian gulma, maka metode yang tepat dan akurat adalah metode
kuadrat.Pada areal dengan kondisi gulma yang saling menutup dapat dilakukan
dengan metode titik.Pada areal dengan gulma yang selintas meliputi kawasan yang
luas dan tidak tersedia waktu yang cukup maka dapat dilakukan dengan metode estimasi
visual.Metode ini sering digunakan oleh peneliti yang cukup berpengalaman.
Analisis
vegetasi gulma dilakukan pada petak-petak sampel yang luasnya telah ditetapkan
secara propesional, dan penentuannya bias secara acak maupun secara sujektif.
Cara subyektif adalah memilih sejumlah petak contoh yang menurut pengamatan
dapat mewakili populasi seluruh areal dalam jarak yang sama sebagai letak petak
contoh. Kemudian sejumlah petak contoh yang diperlukan dipilih secara acak .
Sampling beraturan yaitu dengan meletakkan petak contoh secara beraturan dengan
jarak yang sama dalam satu areal. Sedangkan sampling bertingkat dilakukan
apabila vegetasi terdiri dari beberapa blok atau struktur yang berbeda-beda
fisinominya. Kemudian dilakukan sampling
acak tidak langsung untuk setiap stratum . Dalam pelaksanaan pengamatan pada
satu petak dikenal dua cara yaitu destruktif seluruh gulma dalam petak sampel
dicabut dan diidentifikasi setiap jenisnya untuk menghitung jumlah/ kerapatan
dan bobot kering) non detruktif (seluruh gulma dalam petak sampel
diidentifikasi setiap jenisnya untuk menghitung jumlah/kerapatan.
Metode
kuadrat adalah dengan melakukan pengamatan pada suatu lahan dalam satuan
kuadrat (misalnya m2, cm2, dsb) dan bentuk petak contoh dapat berupa segiempat,
segipanjang, atau lingkaran. Pada metode kuadrat luas petak sampel minimal 0,25
cm2, pada areal kondisi gulma tidak terlalu rapat dan penyebarannya merata.
Berdasarkan penggunaannya kuadrat dibagi menjadi kuadrat permanen dan kuadrat
tidak permanen.
1.2
Tujuan
Praktikum
Agar
mahasiswa dapat melaksanakan analisis vegetasi tersebut dengan menggunakan
metode yang umum dipakai dan mengetahui populasi gulma dalam satuan luas secara
kuantitatifserta melatih keterampilan mahasiswa untuk mengidentifikasi populasi
gulma secara kuantitatifpopulasi gulma secara kuantitatif yang mendominasi pada pertanaman tertentu
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Analisa
vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur)
vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Analisis vegetasi digunakan untuk
mengetahui gulma - gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan sarana
tumbuh dan ruang hidup. Dalam hal ini, penguasaan sarana tumbuh pada umumnya
menentukan gulma tersebut penting atau tidak. Namun dalam hal ini jenis tanaman
memiliki peran penting, karena tanaman tertentu tidak akan terlalu terpengaruh
oleh adanya gulma tertentu, meski dalam jumlah yang banyak (Adi, 2013).
Vegetasi
dalam ekologi adalah istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan. Vegetasi
merupakan bagian hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati suatu
ekosistem. Beraneka tipe hutan, kebun, padang rumput, dan tundra merupakan
contoh-contoh vegetasi. Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan
(komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuhan. Dalam ekologi hutan satuan yang diselidiki adalah suatu
tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit (Rohman dan Sumberartha, 2001).
Metodologi-metodologi
yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian,
yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan
tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis
dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei,
1990).
Metode
garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan
metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan
tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan
akan semakin pendek. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu
komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang,
semak belukar dan lain-lain. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan
sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang
digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih
sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990).
Pada
metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan,
kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai
penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan
dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis.
Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu
tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis
yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat Frekuensi
diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis
yang disebar (Rohman dan Sumberatha, 2001).
Sedangkan
metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan
menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat
dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang
disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam
menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan,
dominansi, dan frekuensi (Rohman dan Sumberatha, 2001).
Pada dasarnya data yang diperoleh dari analisis vegetasi dapat dibagi atas dua
golongan yaitu data kualitatif dn data kuantitaif. Data kualitatif
menunjukkan bagaimana suatu jenis tumbuhan tersebar dalam kelompok,
stratifiksinya, periodisitas, dan lain sebagainya; sedang data kuantitatif
menunjukkan jumlah, ukuran, berat basah/ kering suatu jenis, luas daerah yang
ditumbuhinya. Data kuantitatif didapat dari hasil penjabaran petak-petak
contoh di lapangan, sedangkan data kualitatif didapat dari hasil pengamatan lapangan
berdasar pengalaman yang luas atau hasil penelitian aotecology (Tjitrosoediro, 1984).
Gulma ialah tanaman yang tumbuhnya tidak diinginkan.
Gulma di suatu tempat mungkin berguna sebagai bahan pangan, makanan ternak atau
sebagai bahan obat-obatan. Dengan demikian, suatu spesies tumbuhan tidak dapat
diklasifikasikan sebagai gulma pada semua kondisi. Namun demikian, banyak juga
tumbuhan diklasifikasikan sebagai gulma dimanapun gulma itu berada karena gulma
tersebut umum tumbuh secara teratur pada lahan tanaman budidaya (Sebayang,
2005).
Pengamatan komposisi gulma
berguna untuk mengetahui ada tidaknya pergeseran jenis gulma yaitu keberadaan
jenis gulma pada suatu areal sebelum dan sesudah percobaan/perlakuan. Some
Dominance Ratio (SDR) atau Nisbah Jumlah Dominan (NJD) berguna untuk
menggambarkan hubungan jumlah dominansi suatu jenis gulma dengan jenis gulma
lainnya dalam suatu komunitas, sebab dalam suatu komunitas sering dijumpai
spesies gulma tertentu yang tumbuh lebih dominan dari spesies yang lain. Beberapa
hal yang perlu dipertimbangkan sebelum pengendalian gulma dilakukan antara lain
adalah jenis gulma dominan, tumbuhan budidaya utama, alternatif pengendalian
yang tersedia serta dampak ekonomi dan ekologi (Sukman, 2012).
BAB
III
METODOLOGI
PERCOBAAN
3.1 Waktu danTempat
Praktikum ini dilaksanakan
pada hari minggu
29 November
2015 pukul 11.00 WIB sampai
dengan
seelsai di desa
Blanglambaro,Saree,Aceh
Besar.
3.2 Alat
dan
Bahan
Adapunalat yang digunakan :
·
Frame
50cm x 50cm
·
Plastik
·
Spidol
·
Label
·
Buku
Gulma
3.3 Cara Kerja
1.
Identifikasi
·
Frame
yang dibuatdenganukuran 50x50 cm dilempar
sembarang. Kemudian
gulma yang masuk
pada frame tersebut
dicabut
(setiap
spesies
gulma yang dicabut
hanya 1 batang
saja),
dimasukkan
ke
dalam
plastic
transparan yang telah
disediakan.
·
Diidentifikasi
jenis
gulma yang ada
dengan
menggunakan
buku
deskripsi
atau herbarium berdasarkan
ciri
morfologinya,
dan ditulis nama spesies, morfologi, dan
perkembangbiakannya,
daur hidup dan tempat tumbuhnya.
2.
Analisis
·
Analisis
vegetasi yang dilakukan
secara
kualitatif
dan
kuantitatif. Pada
analisi
vegetasi
kuantitatif
akan
menggunakan
rumus
sebagai
berikut :
Kerapatannisbi
(KN) = 
Ket : KM = jumlah
individu
spesies
gulma
tertentu
dalam
petak
percobaan.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel
1. Jumlah Individu Spesies Gulma Tertentu
Dalam Petak Percobaan Pada Perkebunan Kakao
No.
|
Gulma
|
Frame
|
Total (KM)
|
||
I
|
II
|
III
|
|||
1
|
Euphorbia
hirta
|
7
|
10
|
17
|
|
2
|
Echinochloa
colonum
|
10
|
10
|
||
3
|
Leptochloa
chinensis
|
51
|
51
|
||
4
|
Cyperus
rotundus
|
15
|
15
|
||
5
|
Dichrocephala
integrifolia
|
7
|
7
|
||
Total
|
68
|
22
|
10
|
100
|
|
1. Euphorbia hirta
Kerapatan Nisbi (KN) = 
= 
= 17%
2.Echinochloa
colonum
Kerapatan Nisbi (KN) = 
= 
= 10%
3.
Leptochloa
chinensis
Kerapatan Nisbi (KN) = 
= 
= 51%
4.Cyperus
rotundus
Kerapatan Nisbi (KN) = 
= 
= 15%
5.Dichrocephala
integrifolia
Kerapatan Nisbi (KN) = 
= 
= 7%
Tabel
2. Frekuensi Gulma Tertentu Dalam Petak
Percobaan Pada Perkebunan Kakao
No.
|
Gulma
|
Frame
|
Total (FM)
|
||
I
|
II
|
III
|
|||
1
|
Euphorbia
hirta
|
ü
|
ü
|
2
|
|
2
|
Echinochloa
colonum
|
ü
|
1
|
||
3
|
Leptochloa
chinensis
|
ü
|
1
|
||
4
|
Cyperus
rotundus
|
ü
|
1
|
||
5
|
Dichrocephala
integrifolia
|
ü
|
1
|
||
Total
|
6
|
||||
1.
Euphorbia hirta
Frekuensi Nisbi (FN) =
= 
= 33.3%
2.Echinochloa colonum
Frekuensi Nisbi (FN) =
= 
= 16.7%
3.
Leptochloa chinensis
Frekuensi Nisbi (FN) =
= 
= 16.7%
4.
Cyperus rotundus
Frekuensi Nisbi (FN) =
= 
= 16.7%
5.
Dichrocephala integrifolia
Frekuensi Nisbi (FN) =
= 
= 16.7%
Perhitungan
jumlah spesies yang dominan, yaitu :
1.
Euphorbia hirta
Nisbah
jumlah dominan = 
=
= 33.65%
2.
Echinochloa colonum
Nisbah
jumlah dominan = 
=
= 26.7%
3.
Leptochloa chinensis
Nisbah
jumlah dominan = 
=
= 33.5%
4. Cyperus rotundus
Nisbah jumlah dominan = 
=
= 31.2%
5. Dichrocephala integrifolia
Nisbah jumlah dominan = 
=
= 23.7%
Tabel 3. Tabel analisis
vegetasi gulma pada tanaman kakao
No.
|
Gulma
|
KM
|
KN
|
FM
|
FN
|
Nisbah
|
1
|
Euphorbia
hirta
|
17
|
17%
|
2
|
33.3%
|
33.65%
|
2
|
Echinochloa
colonum
|
10
|
10%
|
1
|
16,7%
|
26.7%
|
3
|
Leptochloa
chinensis
|
51
|
51%
|
1
|
16,7%
|
33.5%
|
4
|
Cyperus
rotundus
|
15
|
15%
|
1
|
16,7%
|
31.2%
|
5
|
Dichrocephala
integrifolia
|
7
|
7%
|
1
|
16,7%
|
23.7%
|
4.2 Pembahasan
·
Patikan
kebo disebut Euphorbia hirta L. atau E. capitata wall. Termasuk
ke dalam famili tumbuhan Euphorbiaceae. Tanaman
ini dikenal dengan nama daerah daun biji kacang,gelang susu,nangkaan,patikan
jawa,kak-sekakan dan sosononga, menggendong anak. Tumbuhan ini
kaya dengan berbagai kandungan kimia,yang sudah diketahui antara lain : Myricyl alkohol, taraxerol, friedlin, betha
amyrin, beta sitosterol, beta eufol, euforbol, triterpenoid eufol, tirukalol,
eufosterol, hentriacontane, tanin, alagic acid (bunga).
·
Echinochloa
colonum, merupakan
tumbuhan setahun, perakarannya dangkal/pendek, tumbuh berumpun, tinggi
kira-kira 10 – 100 cm. Batangnya ramping, tumbuh tegak dan menyebar. Daun
berbentuk garis, agak lebar di bagian pangkal dan meruncing ke arah ujung.
Tidak mempunyai bulu-bulu atau kadang-kadang terdapat sedikit di bagian
pangkal. Bagian tepi daun sering kelihatan berwarna ungu. tidak mempunyai
lidah-lidah. Karangan bunganya terdapat di ujung malai tegak, yang panjangnya 3
– 15 cm dengan 3 – 18 tandan. Anak bulir lebih kurang berbentuk lonjong, dengan
panjang 2 – 3 mm, berwarna hijau sampai ungu, mempuyai bulu-bulu, dan
bertangkai pendek. Kepala putik seperti bulu ayam, dengan warna ungu. Kepala
sari panjang 0,7 – 0,9 mm. Buah E. colonum berbentuk ellips, datar cembung,
panjang 1,5 mm. E. colonum terdapat di sawah tumbuh bersama-sama padi, serta di
tempat-tempat basah sampai setengah basah lainnya
·
Leptochloa chinensis,
sebuah tanaman tahunan yang berumbai dan halus, memiliki tinggi sampai dengan
120 cm. Batang ramping, berongga, tegak atau meninggi dari dasar bercabang,
perakaran pada node yang lebih rendah, halus dan tanpa bulu, umumnya memiliki
10-20 node, dan dapat mencapai setinggi 50-100-cm. Daun halus, linier, panjang
10-30 cm, panjang membrane ligule 1-2. Perbungaan sempit oval, malai longgar,
panjang poros utama 10-40 cm, dan dengan cabang yang berbentuk duri seperti
cabang menyirip, panjang bulir 2-3,2 mm, keunguan atau hijau dan 4-6 bunga.
·
Cyperus rotundus
memiliki rimpang utuh berbentuk jorong/bulat panjang sampai bulat telur
memanjang, bagian pangkal dan ujungnya meruncing, sangat keras, sukar patah.
Panjang satu cm sampai 5,5 cm, garis tengah 7mm sampai 1,5 cm. Warna coklat
muda sampai coklat kehitaman, kadang-kadang berbintik putih, permukaan
beruas-ruas, jarak antara tiap ruas sampai kurang lebih 4mm. Pada permukaan
rimpang terdapat tunas-tunas, pangkal akar, sisa-sisa pelepah dan serabut
berasal dari sisa pelepah daun yang telah koyak. Sisa pelepah daun berupa lembaran-lembaran
tipis berbentuk tidak beraturan berwarna coklat muda, coklat sampai kehitaman,
terdapat terutama pada pertengahan sampai bagian ujung rimpang. Bidang patahan
tidak rata, warna putih coklat. Batas antara korteks dan silinder pusat jelas.
·
Dichrocephala integrifolia, Tinggi
tanaman hingga 1,6 m. Daun: tangkai daun 0 atau hingga 5 cm, kadang-kadang
bersayap; lamina 2-10 × 1,5-6 cm, lyrate-pinnatifid atau bulat telur, pilose
untuk glabrescent atas dan bawah; Margin crenate atau crenate-bergigi. Capitula
sangat kecil, mm C.4 diameter, bulat. Phyllaries c.1 mm. Achenes mm c.1, gundul
atau dengan beberapa kelenjar di puncak; marjin 2-bergaris. Pappus dari ray
floret biasanya 0, jarang seta tunggal; disk kuntum 0 atau beberapa proses
menit papillose.
BAB
V
KESIMPULAN
Dari praktikum ini dapat di tarik
kesimuplan bahwa :
1.
Leptochloa
chinensis memiliki populasi tertinggi di sekitar kebun kakao,
tempat berlangsungnya parktikum.
2.
Dichrocephala
integrifolia memilki pupulasi terendah di sekitar
kebun kakao, tempat berlangsungnya parktikum.
3.
Metode menggunakan kuadran ini,
merupakan salah satu metode cepat untuk mengumpulkan sampel untuk menghitung
pupulasi gulma.
DAFTAR
PUSTAKA
Adi. 2013. Vegetasi
Gulma. http://arekpekalongan.blogspot.com/2013/10/vegetasi gulma.html. Diakses 15 Desember 2015.
Johnson, 2010. Leptochloa
chinensis.
http://www.knowledgebank.irri.org/ipm/
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA. Malang.
Sastroutomo, S,
S. 1990. Ekologi Gulma. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Sebayang,
H. T., 2005. Gulma dan Pengendaliannya
Pada Tanaman Padi. UnitPenerbitan Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.
Sukman, 2012. Petunjuk Praktikum Ilmu Gulma. Fakultas
Pertanian, Universitas Mulawarman.
Samarinda.
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar
Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB.
Syam, M. dan
Hermanto. 1995. kinerja Penelitian Tanaman Pangan “Buku 2- Padi”. Pusat Penelitian Dan Pengembangan
Tanamn Pangan. Bogor.
the-dirty-dozen/leptochloa-chinensis-l-nees.html.
Diakses 15 Desember 2015
Tjitrosoedirdjo,
S., H. Utomo, dan J. Wiroatmodjo., 1984. Pengelolaan
Gulma di Perkebunan. PT Gramedia, Jakarta.
Tjitrosoepomo,
Gembong. 2007. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar