Senin, 18 Januari 2016

ANALISIS VEGETASI

Laporan Praktium IV

ANALISIS VEGETASI

Nama               : Muhammad Asdhani
NIM                : 1305101050121
Kelas                : 1
Kelompok       : 4
                             


                                     



LABORATORIUM ILMU GULMA
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH

2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Analisis vegetasi merupakan cara yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar sebaran berbagai spesies dalam suatu area melaui pengamatan langsung. Dilakukan dengan membuat plot dan mengamati morfologi serta identifikasi vegetasi yang ada. Kehadiran vegetasi pada suatu landscape akan memberikan dampak positif bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah, pengaturan tata air tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi tanah, tetapi besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebuSesuai dengan keadaan vegetasi di suatu lahan, maka pemilihan metode pemilihan analisis yang tepat dapat memberikan hasil yang lebih mendekati dari kenyataan yang sesungguhnya di lapangan.Misalnya untuk evaluasi hasil dari tindakan pengendalian gulma, maka metode yang tepat dan akurat adalah metode kuadrat.Pada areal dengan kondisi gulma yang saling menutup dapat dilakukan dengan metode titik.Pada areal dengan gulma yang selintas meliputi kawasan yang luas dan tidak tersedia waktu yang cukup maka dapat dilakukan dengan metode estimasi visual.Metode ini sering digunakan oleh peneliti yang cukup berpengalaman.
Analisis vegetasi gulma dilakukan pada petak-petak sampel yang luasnya telah ditetapkan secara propesional, dan penentuannya bias secara acak maupun secara sujektif. Cara subyektif adalah memilih sejumlah petak contoh yang menurut pengamatan dapat mewakili populasi seluruh areal dalam jarak yang sama sebagai letak petak contoh. Kemudian sejumlah petak contoh yang diperlukan dipilih secara acak . Sampling beraturan yaitu dengan meletakkan petak contoh secara beraturan dengan jarak yang sama dalam satu areal. Sedangkan sampling bertingkat dilakukan apabila vegetasi terdiri dari beberapa blok atau struktur yang berbeda-beda fisinominya.  Kemudian dilakukan sampling acak tidak langsung untuk setiap stratum . Dalam pelaksanaan pengamatan pada satu petak dikenal dua cara yaitu destruktif seluruh gulma dalam petak sampel dicabut dan diidentifikasi setiap jenisnya untuk menghitung jumlah/ kerapatan dan bobot kering) non detruktif (seluruh gulma dalam petak sampel diidentifikasi setiap jenisnya untuk menghitung jumlah/kerapatan.
Metode kuadrat adalah dengan melakukan pengamatan pada suatu lahan dalam satuan kuadrat (misalnya m2, cm2, dsb) dan bentuk petak contoh dapat berupa segiempat, segipanjang, atau lingkaran. Pada metode kuadrat luas petak sampel minimal 0,25 cm2, pada areal kondisi gulma tidak terlalu rapat dan penyebarannya merata. Berdasarkan penggunaannya kuadrat dibagi menjadi kuadrat permanen dan kuadrat tidak permanen.

1.2              Tujuan Praktikum
Agar mahasiswa dapat melaksanakan analisis vegetasi tersebut dengan menggunakan metode yang umum dipakai dan mengetahui populasi gulma dalam satuan luas secara kuantitatifserta melatih keterampilan mahasiswa untuk mengidentifikasi populasi gulma secara kuantitatifpopulasi gulma secara kuantitatif  yang mendominasi pada pertanaman tertentu












BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui gulma - gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan sarana tumbuh dan ruang hidup. Dalam hal ini, penguasaan sarana tumbuh pada umumnya menentukan gulma tersebut penting atau tidak. Namun dalam hal ini jenis tanaman memiliki peran penting, karena tanaman tertentu tidak akan terlalu terpengaruh oleh adanya gulma tertentu, meski dalam jumlah yang banyak (Adi, 2013).
Vegetasi dalam ekologi adalah istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan. Vegetasi merupakan bagian hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Beraneka tipe hutan, kebun, padang rumput, dan tundra merupakan contoh-contoh vegetasi. Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Dalam ekologi hutan satuan yang diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit (Rohman dan Sumberartha, 2001).
Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).
Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990).
Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman dan Sumberatha, 2001).
Sedangkan metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman dan Sumberatha, 2001).
Pada dasarnya data yang diperoleh dari analisis vegetasi dapat dibagi atas dua golongan yaitu data kualitatif dn data kuantitaif.  Data kualitatif menunjukkan bagaimana suatu jenis tumbuhan tersebar dalam kelompok, stratifiksinya, periodisitas, dan lain sebagainya; sedang data kuantitatif menunjukkan jumlah, ukuran, berat basah/ kering suatu jenis, luas daerah yang ditumbuhinya.  Data kuantitatif didapat dari hasil penjabaran petak-petak contoh di lapangan, sedangkan data kualitatif didapat dari hasil pengamatan lapangan berdasar pengalaman yang luas atau hasil penelitian aotecology (Tjitrosoediro, 1984).
            Gulma ialah tanaman yang tumbuhnya tidak diinginkan. Gulma di suatu tempat mungkin berguna sebagai bahan pangan, makanan ternak atau sebagai bahan obat-obatan. Dengan demikian, suatu spesies tumbuhan tidak dapat diklasifikasikan sebagai gulma pada semua kondisi. Namun demikian, banyak juga tumbuhan diklasifikasikan sebagai gulma dimanapun gulma itu berada karena gulma tersebut umum tumbuh secara teratur pada lahan tanaman budidaya (Sebayang, 2005).
            Pengamatan komposisi gulma berguna untuk mengetahui ada tidaknya pergeseran jenis gulma yaitu keberadaan jenis gulma pada suatu areal sebelum dan sesudah percobaan/perlakuan. Some Dominance Ratio (SDR) atau Nisbah Jumlah Dominan (NJD) berguna untuk menggambarkan hubungan jumlah dominansi suatu jenis gulma dengan jenis gulma lainnya dalam suatu komunitas, sebab dalam suatu komunitas sering dijumpai spesies gulma tertentu yang tumbuh lebih dominan dari spesies yang lain. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum pengendalian gulma dilakukan antara lain adalah jenis gulma dominan, tumbuhan budidaya utama, alternatif pengendalian yang tersedia serta dampak ekonomi dan ekologi (Sukman, 2012).



BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Waktu danTempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari minggu 29 November 2015 pukul 11.00 WIB sampai dengan seelsai di desa Blanglambaro,Saree,Aceh Besar.

3.2 Alat dan Bahan
Adapunalat yang digunakan :
·         Frame 50cm x 50cm
·         Plastik
·         Spidol
·         Label
·         Buku Gulma

3.3 Cara Kerja
1.      Identifikasi
·         Frame yang dibuatdenganukuran 50x50 cm dilempar sembarang. Kemudian gulma yang masuk pada frame tersebut dicabut (setiap spesies gulma yang dicabut hanya 1 batang saja),  dimasukkan ke dalam plastic transparan yang telah disediakan.
·         Diidentifikasi jenis gulma yang ada dengan menggunakan buku deskripsi atau herbarium berdasarkan ciri morfologinya,  dan ditulis nama spesies, morfologi, dan perkembangbiakannya,  daur hidup dan tempat tumbuhnya.
2.      Analisis
·         Analisis vegetasi yang dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Pada analisi vegetasi kuantitatif akan menggunakan rumus sebagai berikut :
                                    Kerapatannisbi (KN)   =
Ket : KM = jumlah individu spesies gulma tertentu dalam petak percobaan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1      Hasil Pengamatan

Tabel 1. Jumlah Individu Spesies Gulma Tertentu  Dalam Petak Percobaan Pada Perkebunan Kakao
No.
Gulma
Frame
Total (KM)
I
II
III
1
Euphorbia hirta
7

10
17
2
Echinochloa colonum
10


10
3
Leptochloa chinensis
51


51
4
Cyperus rotundus

15

15
5
Dichrocephala integrifolia

7

7
Total
68
22
10
100

1. Euphorbia hirta
Kerapatan Nisbi (KN) =
                                     =
                                     = 17%
2.Echinochloa colonum
Kerapatan Nisbi (KN) =
                                     =
                                     = 10%




3.      Leptochloa chinensis
Kerapatan Nisbi (KN) =
                                     =
                                     = 51%
4.Cyperus rotundus
Kerapatan Nisbi (KN) =
                                     =
                                     = 15%
5.Dichrocephala integrifolia
Kerapatan Nisbi (KN) =
                                     =
                                     = 7%
Tabel 2. Frekuensi Gulma Tertentu  Dalam Petak Percobaan Pada Perkebunan Kakao
No.
Gulma
Frame
Total (FM)
I
II
III
1
Euphorbia hirta
ü   

ü   
2
2
Echinochloa colonum
ü   


1
3
Leptochloa chinensis
ü   


1
4
Cyperus rotundus

ü   

1
5
Dichrocephala integrifolia

ü   

1
Total
6

1. Euphorbia hirta
 Frekuensi Nisbi (FN) =
                                    =
                                    = 33.3%
2.Echinochloa colonum
 Frekuensi Nisbi (FN) =
                                    =
                                    = 16.7%
3. Leptochloa chinensis
 Frekuensi Nisbi (FN) =
                                    =
                                    = 16.7%
4. Cyperus rotundus
 Frekuensi Nisbi (FN) =
                                    =
                                    = 16.7%
5. Dichrocephala integrifolia
 Frekuensi Nisbi (FN) =
                                    =
                                    = 16.7%
Perhitungan jumlah spesies yang dominan, yaitu :
1. Euphorbia hirta
Nisbah jumlah dominan =
                                       =                           
    = 33.65%
2. Echinochloa colonum
Nisbah jumlah dominan =
                                       =                           
    = 26.7%



3. Leptochloa chinensis
Nisbah jumlah dominan =
                                       =                           
    = 33.5%
4.      Cyperus rotundus
Nisbah jumlah dominan =
                                       =                           
    = 31.2%
5.      Dichrocephala integrifolia

Nisbah jumlah dominan =
                                       =                            
    = 23.7%

Tabel 3. Tabel analisis vegetasi gulma pada tanaman kakao
No.
Gulma
KM
KN
FM
FN
Nisbah
1
Euphorbia hirta
17
17%
2
33.3%
33.65%
2
Echinochloa colonum
10
10%
1
16,7%
26.7%
3
Leptochloa chinensis
51
51%
1
16,7%
33.5%
4
Cyperus rotundus
15
15%
1
16,7%
31.2%
5
Dichrocephala integrifolia
7
7%
1
16,7%
23.7%




4.2 Pembahasan

·           Patikan kebo disebut  Euphorbia hirta L. atau E. capitata wall. Termasuk ke dalam famili tumbuhan  Euphorbiaceae. Tanaman ini dikenal dengan nama daerah  daun biji kacang,gelang susu,nangkaan,patikan jawa,kak-sekakan dan sosononga, menggendong anak. Tumbuhan ini  kaya dengan berbagai kandungan kimia,yang sudah diketahui antara lain : Myricyl alkohol, taraxerol, friedlin, betha amyrin, beta sitosterol, beta eufol, euforbol, triterpenoid eufol, tirukalol, eufosterol, hentriacontane, tanin, alagic acid (bunga).
·           Echinochloa colonum, merupakan tumbuhan setahun, perakarannya dangkal/pendek, tumbuh berumpun, tinggi kira-kira 10 – 100 cm. Batangnya ramping, tumbuh tegak dan menyebar. Daun berbentuk garis, agak lebar di bagian pangkal dan meruncing ke arah ujung. Tidak mempunyai bulu-bulu atau kadang-kadang terdapat sedikit di bagian pangkal. Bagian tepi daun sering kelihatan berwarna ungu. tidak mempunyai lidah-lidah. Karangan bunganya terdapat di ujung malai tegak, yang panjangnya 3 – 15 cm dengan 3 – 18 tandan. Anak bulir lebih kurang berbentuk lonjong, dengan panjang 2 – 3 mm, berwarna hijau sampai ungu, mempuyai bulu-bulu, dan bertangkai pendek. Kepala putik seperti bulu ayam, dengan warna ungu. Kepala sari panjang 0,7 – 0,9 mm. Buah E. colonum berbentuk ellips, datar cembung, panjang 1,5 mm. E. colonum terdapat di sawah tumbuh bersama-sama padi, serta di tempat-tempat basah sampai setengah basah lainnya
·           Leptochloa chinensis, sebuah tanaman tahunan yang berumbai dan halus, memiliki tinggi sampai dengan 120 cm. Batang ramping, berongga, tegak atau meninggi dari dasar bercabang, perakaran pada node yang lebih rendah, halus dan tanpa bulu, umumnya memiliki 10-20 node, dan dapat mencapai setinggi 50-100-cm. Daun halus, linier, panjang 10-30 cm, panjang membrane ligule 1-2. Perbungaan sempit oval, malai longgar, panjang poros utama 10-40 cm, dan dengan cabang yang berbentuk duri seperti cabang menyirip, panjang bulir 2-3,2 mm, keunguan atau hijau dan 4-6 bunga.

·           Cyperus rotundus memiliki rimpang utuh berbentuk jorong/bulat panjang sampai bulat telur memanjang, bagian pangkal dan ujungnya meruncing, sangat keras, sukar patah. Panjang satu cm sampai 5,5 cm, garis tengah 7mm sampai 1,5 cm. Warna coklat muda sampai coklat kehitaman, kadang-kadang berbintik putih, permukaan beruas-ruas, jarak antara tiap ruas sampai kurang lebih 4mm. Pada permukaan rimpang terdapat tunas-tunas, pangkal akar, sisa-sisa pelepah dan serabut berasal dari sisa pelepah daun yang telah koyak. Sisa pelepah daun berupa lembaran-lembaran tipis berbentuk tidak beraturan berwarna coklat muda, coklat sampai kehitaman, terdapat terutama pada pertengahan sampai bagian ujung rimpang. Bidang patahan tidak rata, warna putih coklat. Batas antara korteks dan silinder pusat jelas.
·           Dichrocephala integrifolia, Tinggi tanaman hingga 1,6 m. Daun: tangkai daun 0 atau hingga 5 cm, kadang-kadang bersayap; lamina 2-10 × 1,5-6 cm, lyrate-pinnatifid atau bulat telur, pilose untuk glabrescent atas dan bawah; Margin crenate atau crenate-bergigi. Capitula sangat kecil, mm C.4 diameter, bulat. Phyllaries c.1 mm. Achenes mm c.1, gundul atau dengan beberapa kelenjar di puncak; marjin 2-bergaris. Pappus dari ray floret biasanya 0, jarang seta tunggal; disk kuntum 0 atau beberapa proses menit papillose.
















BAB V
KESIMPULAN


            Dari praktikum ini dapat di tarik kesimuplan bahwa :

1.      Leptochloa chinensis memiliki populasi tertinggi di sekitar kebun kakao, tempat berlangsungnya parktikum.
2.      Dichrocephala integrifolia memilki pupulasi terendah di sekitar kebun kakao, tempat berlangsungnya parktikum.
3.      Metode menggunakan kuadran ini, merupakan salah satu metode cepat untuk mengumpulkan sampel untuk menghitung pupulasi gulma.




















DAFTAR PUSTAKA


Adi. 2013. Vegetasi Gulma. http://arekpekalongan.blogspot.com/2013/10/vegetasi        gulma.html. Diakses 15 Desember 2015.
Johnson, 2010. Leptochloa chinensis. http://www.knowledgebank.irri.org/ipm/
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA. Malang.
Sastroutomo, S, S. 1990. Ekologi Gulma. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Sebayang, H. T., 2005. Gulma dan Pengendaliannya Pada Tanaman Padi. UnitPenerbitan            Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.
Sukman, 2012. Petunjuk Praktikum Ilmu Gulma. Fakultas Pertanian, Universitas                Mulawarman. Samarinda.
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB.
Syam, M. dan Hermanto. 1995. kinerja Penelitian Tanaman Pangan “Buku 2-         Padi”. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanamn Pangan. Bogor.
            the-dirty-dozen/leptochloa-chinensis-l-nees.html. Diakses 15 Desember       2015
Tjitrosoedirdjo, S., H. Utomo, dan J. Wiroatmodjo., 1984. Pengelolaan Gulma di                Perkebunan.  PT Gramedia, Jakarta.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2007. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University   Press: Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar