Laporan Praktikum
Bioteknologi
EMBRIOGENESIS
SOMATIK
Nama : Muhammad Asdhani
NIM : 1305101050121
Kelas : Agroteknologi 01
LABORATORIUM
KULTURJARINGAN TANAMAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNVESITAS SYIAH
KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Eembriogenenesis somatik adalah proses dimana sel – sel somatik (non
gamet) mengalamai deferensiensi dan membetuk struktur biopolar yang mengadung
calon akar dan tunas. Embrio somatik yang terbentu mirip dengan embri hasil
zigot dan dapat mengalami pematangn embrio dam berkecmabah.
Untuk
menginduksi Embriogenesis somatik dari eksplan, kalus yang terbentuk harus
diletakan dalam media yang mengadung auksin. Setelah bebrapa kali dilakukan
subkultur pada media yang sama, sel harus diletakanpada media tanpa zat
pengatur tumbuhguna proses pamatangan embrio. Multipikasi dari tanaman
embriogenesis somatik memilki potensi untuk menigkatkan jumlah tanaman dalam
tempo singkat. Dari satu botol kultur dapat di produksi ribuan embrio somatik.
Akan tetapi, proses pematangan semua embrio yang terbentuk menjadi tanaman bisa
menimbulkan suatu permasalah yang dikelna dengan variasi somacional. Namun
demikina, proses embriogenesis ini telah menjadi pembaruan bagi perusahan benih
dalam memproduksi benih sintetik.
1.2 Tujuan Praktikum
1. Intruksional Umum
Mahasiswa
diharapkan dapata menjelaskan pentingnya kultur embrio somatik dalam kultur
jarungan tanaman.
2. Intruksional Khusus
Mahasiswa
mengeri tentang peranan danam manfaat embriosomatik dalam usaha perbanyakan
tanaman, memahami proses dan tahan pembentukan embro somatik, dan trampil dalam
melakukan kultur embrisomatik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kultur jaringan adalah serangkaian
kegiatan yang dilakukan untuk membuat bagian tanaman (akar, tunas, jaringan
tumbuh tanaman) tumbuh menjadi tanaman utuh (sempurna) dikondisi in vitro (didalam
gelas). Jadi Kultur in vitro dapat diartikan sebagai bagian jaringan yang
dibiakkan di dalam tabung inkubasi atau cawan petri dari kaca atau material
tembus pandang lainnya. Secara teoritis teknik kultur jaringan dapat dilakukan
untuk semua jaringan, baik dari tumbuhan, hewan, bahkan juga manusia, karena
berdasarkan teori Totipotensi Sel (Total Genetic Potential), bahwa setiap sel
memiliki potensi genetik seperti zigot yaitu mampu memperbanyak diri dan
berediferensiasi menjadi tanaman lengkap. Sel dari suatu organisme multiseluler
di mana pun letaknya, sebenarnya sama dengan sel zigot karena berasal dari satu
sel tersebut, setiap sel berasal dari satu sel (Harianto,2009).
Embriogenesis
somatik merupakan suatu proses dimana sel-sel somatik baik haploid maupun
diploid berkembang membentuk tumbuhan baru melalui tahapan perkembangan embrio
yang spesifik tanpa melalui fusi gamet. Embriogenesis somatik atau
embryogenesis asexual adalah proses dimana sel-sel soma berkembang men jadi
embrio melalui tahap-tahap morfologi yang khas tanpa melalui fusi gamet
(Tautorus et al., 1991 dalam Lukman, 2012)
Perbanyakan tanaman melalui kultur
jaringan dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu pembentukan tunas adventif,
proliferasi tunas lateral, dan embryogenesis somatik. Penelitian perbanyakan
tanaman cendana melalui proliferasi tunas telah dilakukan oleh Kamil dan Umboh
(1990 dalam Sukmadjaja, 2005). Di masa mendatang, perbanyakan klonal melalui
embriogenesis somatik untuk produksi benih sintetis tanaman kehutanan akan
lebih banyak mendapat perhatian dibandingkan cara lainnya (Attree et al.
1990 dalam Sukmadjaja, 2005). Menurut (Williams dan Maheswara, 1986 dalam
Sukmadjaja, 2005) Embriogenesis somatik merupakan suatu proses di mana sel-sel
somatik (baik haploid maupun diploid) berkembang membentuk tumbuhan baru
melalui tahapan perkembangan embrio yang spesifik tanpa melalui fusi gamet. Dan
menurut (Tautorus et al., 1991 dalam Sukmadjaja, 2005) embriogenesis
somatik atau embriogenesis aseksual adalah proses dimana sel-sel soma
berkembang menjadi embrio melalui tahap-tahap morfologi yang khas tanpa melalui
fusi gamet.
Keberhasilan embriogenesis melalui kultur in vitro dipengaruhi
beberapa faktor. Faktor-faktor dimaksud adalah:
(1) genotip tanaman donor,
(2) kondisi fisiologis tanaman
donor,
(3) jenis medium dan
kondisi fisik medium,
(4) lingkungan kultur, dan
(5) Zat Pengatur
Tumbuh (ZPT)
(Borries et al.,
1999; Zhang et al., 2000 dalam Utami et al., 2007).
Zat pengatur tumbuh merupakan salah satu faktor yang menentukan
keberhasilan embriogenesis somatik, seperti auksin dan sitokinin berperan dalam
berbagai proses perkembangan tumbuhan, seperti pembelahan dan pemanjangan sel,
diferensiasi sel dan inisiasi pembentukan akar lateral, pembesaran sel,
dominansi apikal, perkembangan pembuluh (jaringan pengangkut), perkembangan
aksis embrio (Friml et al., 2003 dalam Utami, 2007), tropisme, serta
perkembangan embrio (Mc Glasson, 1978 dalam Ludford, 1990).
Sebagai
eksplan umumnya digunakan jaringan atau organ yang bersifat embriogenik seperti
embrio zigotik, kotiledon, mata tunas, dan hipo/epikotil. Kandungan garam-garam
anorganik yang tinggi dalam media MS serta adanya vitamin dan sukrosa cukup
memadai untuk mendukung proses pembentukan dan perkembangan sel-sel somatik dari
embrio zigotik menjadi embrio somatik. Pengenceran media MS sebagai media
perkecambahan dilakukan pula oleh Rai dan McComb (2002) pada tanaman cendana,
serta Rout et al. (1995) pada tanaman Acacia catechu. Tremblay (1990) melakukan
pengenceran garam makro media Schenk dan Hilderbrandt sampai seperempatnya.
Menurut Rout et al. (1995), pengenceran media pada tahap perkecambahan
dimaksudkan untuk menghindari pengkalusan kembali pada dasar tunas atau
struktur embrio somatik (Viandra, 2012)
BAB III
METODOLOGI PERCOBAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari
kamis tanggal 4 November 2015 hingga 25 November 2015. Bertempat di
Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Faultas Pertanian, Universitas Syiah
Kuala.
3.2 Alat dan Bahan
Alat
·
Scalpel
·
Pinset
·
Erlenmeyer
·
Petridisk
Bahan
·
Media C (MS + 20 ml 2,4-D)
·
Media D (MS + 20 ml Picloram)
·
Aquades
·
Kacang tanah
·
Tween 20
·
Bayclin 100%
3.3 Cara Kerja
1.
Pilih
benih kacang yang sama ukurannya. (setelah ini, semua dilakukan di dalam
laminar air flow)
2.
Tuang
larutan bayclin 100% kedalam wadah steril dan tamaah 3 tetes Tween 20.
3.
Rendam
kacang dalam larutan bayclin 100%, selama 3 – 4 menit.
4.
Buang
larutan bayclin 100%, dan bilas dengan aquades steril sekitar 3 – 4 kali.
5.
Ambil 1 benih kacang dan ltakan di petridisk
steril, dan pisahakan leaflet dari embrionya. Setiap kacang tanah memilki 8
leaflet
6.
Tanaman
Lelflet pada media C dan D.
7.
Tutup
rapat media, dan letakan didalam ruang inkubasi
8.
Lakukan
pengamatan setiap minggunya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Botol kultur
|
Minggu ke-1
|
Minggu ke-2
|
Minggu ke-3
|
Media C
|
-
|
-
|
-
|
Media D
|
-
|
-
|
-
|
4.2 Pembahasan
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
1.
Sebelum
melakukan pratikum sebaikanya pratikan memcuci tangan hingga siku.
2.
Sterilkan
alat minimal 2 jam sebelum praktikum dimulai.
3.
Gunakan
masker yang bersih (baru) dan sarung tangan steril.
4.
Pastikan
mencuci bersih eksplan, dan gunakan eksplan yang benar benar bersih dan sehat.
DAFTAR PUSTAKA
Harianto,Wijaya.2009.Pengenalan
teknik in vitro.Jakarta:Bumi Aksara
Ludford, P.M. 1990. Postharvest Hormone Changes in Vegetables and
Fruits. In: Davies, P.J. (ed.). Plant Hormone and
Their Role in Plant Growth and Development.
Lukman. 2012.
Pengaruh ZPT (zat pengatur tumbuh) terhadap embrio genesis. http://luqmanmaniabgt.blogspot.co.id/2012/10/pengaruh-zpt-zat-pengatur- tumbuh.html. Diakses pada tanggal 10 Desember
2015.
Sukmadjaja,
Deden. 2005. Embriogenesis somatik langsung pada tanaman cendana. Jurnal
Bioteknologi Pertanian, vol. 10, No.
1: 1-6
Viandra. 2012. laporan praktikum kultur
jaringan. http://alwayssmileband.blogspot.co.id/2012/07/laporan-praktikum-kultur- jaringan.html. Diakses pada tanggal 10
Desember 2015
Zuyasna. 2015. Penuntun Praktikum Bioteknologi Pertanian. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh.
LAMPIRAN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar