CROSSING JAGUNG MANIS
disusun oleh
TIM KELAS PEMULIAAN TANAMAN
terimakasih untuk mereka telah menyusun laporan ini T^T
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Prospek
usaha tani jagung cukup cerah bila dikelola secara intensif dan komersial
kaepada agrobisnis. Permintaan pasar dalam negeri dan peluang ekspor komoditas
jagung cenderung meningkat dari tahun ke tahun, baik untuk memnuhi kebutuhan
pangan maupun nonpangan. Produksi dan kualitas jagung dapat ditingkatkan
melalui penerapan teknologi mutakhir (modern) yang disesuaikan dengan
agroekologi setempat.
Penyebarluasan
teknologi budidaya, penerapan pasca panen, dan seluk beluk usaha tani jagung
dapat dilakukan melalui informasi buku-buku praktek yang diperlukan oleh para
peminat agribisnis jagung. Usaha peningkatan produksi pertanian pada masa
kemerdekaan dimulai dengan adanya plan kasimo yang merupakan rencana tiga
tahunan (1948-1950) dengan mendirikan Balai Pendidikan Masyarakat Desa
(BPMD), Sasaran pengembangan usaha tani
jagung nasional adalah berswasembada jagung yang bersifat “on trend” yaitu
mengekspor bila terjadi surplus produksi dan mengimpor bila produksi deficit.
Disamping itu, pengembangan usaha tani dapat meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan petani, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusah,
meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan dan nonpangan didalam
negeri, serta mengurangi impor jagung.
Penyerbukan
(pollination) artinya perpindahan serbuk sari dari benang sari ke kepala putik.
Mekanisme jatuhnya serbuk sari ke kepala putik disebabkan oleh beberapa hal
antara lain: (1) Letak kepala putik pada bunga tepat di bawah benang sari,
sehingga serbuk sari jatuh tepat di atas ke kepala putik dengan mudah; (2)
kepala putik menempel pada kepala sari, jika kepala sari pecah maka serbuk sari
jatuh di atas kepala putik dan berlangsung penyerbukan; (3) Serbuk sari tertiup
angin atau terbawa serangga dan secara kebetulan serbuk sari tersebut jatuh
diatas kepala putik.
Kepala
putik yang siap mengalami penyerbukan ditandai dengan keluarnya lendir (nektar)
yang mengandung larutan gula dan zat-zat lain yang diperlukan untuk
perkecambahan serbuk sari. Jika serbuk sari jatuh di atas kepala putik, maka
dalam keadaan normal serbuk sari akan menyerap cairan yang dihasilkan oleh
putik, dan selanjutnya akan mengembang dan berkecambah. Pada saat itulah salah
satu pori pada dinding luar serbuk sari pecah, karena serbuk sari terus menerus
menyerap cairan kepala putik, maka volume serbuk sari akan bertambah besar dan
isi serbuk sari yang terbungkus oleh selaput dan lunak dapat keluar melalui
pori yang telah pecah membentuk tabung sari (pollentube).
Sebelum
berkecambah serbuk sari memiliki dua buah inti yang disebut dengan inti
vegetatif dan inti generatif. Pada waktu mulai berkecambah, inti generatif yang
disebut pula dengan inti sperma membelah diri. Pertumbuhan tabung sari di
kendali oleh inti vegetatif. Sedangkan tugas kedua inti sperma adalah melakukan
pembuahan dalam kepala putik.
Serbuk
sari yang berkecambah di atas kepala putik akan tumbuh memanjang ke bawah dan
masuk ke dalam saluran tangkai putik menuju ke bakal buah sampai ujungnya
menyentuh kantung embrio. Dengan demikian tabung sari harus lebih panjang dari
tangkai putik. Panjang tangkai putik bungan jagung dapat mencapai 25-40 c. Pada
umumnya pertumbuhan tabung sari dalam saluran tangkai putik berjalan lamban.
Untuk mencapai bakal biji diperlukan waktu antara 5-60 jam, bahkan
kadang-kadang dapt mencapai 5 hari atau lebih.
Jagung
(Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/graminae yang
mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan munculnya cabang anakan
pada beberapa genotipe dan lingkungan tertentu. Batang jagung terdiri atas buku
dan ruas. Daun jagung tumbuh pada setiap buku, berhadapan satu sama lain. Bunga
jantan terletak pada bagian terpisah pada satu tanaman sehingga lazim terjadi
penyerbukan silang. Jagung merupakan tanaman hari pendek, jumlah daunnya
ditentukan pada saat inisiasi bunga jantan, dan dikendalikan oleh genotipe,
lama penyinaran, dan suhu.
B. Tujuan
praktikum
TINJAUAN
PUSTAKA
Tanaman
jagung merupakan tumbuhan semusim (annual). Susunan tubuhnya (morfologi)
terdiri dari akar, batang, daun bunga dan buah. Perakaran tanaman jagung
terdiri dari akar utama, akar cabang, akar lateral, dan akar rambut. Sistem
perakaran serabut yang berfungsi sebagai alat untuk menghisap air serta
garam-garam yang terdapat dalam tanah, berupa mineral-mineral senyawa kimia
yang mengeluarkan zat organic dari tanah dan alat pernafasan. Batang jagung
beruas-ruas (berbuku-buku) dengan jumlah ruas bervariasi antara 10-40 ruas.
Tanaman jagung tidak bercabang. Panjang bantangh jagung berkisar antara 60-300
cm (Rukmana, 1997).
Faktor-faktor
yang paling penting dalam penanaman jajgung antara lain sinar matahari, air,
hujan dan angina. Air yang memadai di daerah areal sekitar pertanian yang cukup
akan membantu biji, bunga, dan buah dalam proses pertumbuhan dan disertai hujan
yang relative optiamal. Keberadaan angin juga sangat penting didalam membantu
penyerbukan. Temperature untuk jagung berkisar antara 23-27 0C (Allard, 1992).
Persilangan
adalah suatu teknik mengawinkan bunga dengan meletakkan pollen atau serbuk sari
pada stigma (lubang atau rongga yang dangkal berisi cairan kental agak lengket
sebagai tempat meletakkan pollen dan masuknya tabung pollen ke dalam ovari
(bakal buah) pada waktu polinasi/penyerbukan. Dikenal dua macam persilangan,
yaitu perkawinan sendiri (selfing) dan perkawinan silang (crossing). Perkawinan
sendiri (selfing) adalah perkawinan dengan meletakkan pollen pada stigma yang
berasal pada satu bunga, satu tanaman, tetapi masih dalam satu spesies.
Perkawinan silang (crossing) adalah perkawinan dengan meletakkan pollen pada
stigma yang berasal dari dua jenis bunga yang berbeda pada spesies yang sama
baik. Jika persilangan dilakukan siang hari, putik mengering sehingga tidak
akan terjadi pembuahan, kalaupun terjadi pembuahan kualitas buah tidak
maksimal. Umur bunga satu atau dua hari setelah mekar hingga lima minggu
setelah mekar (Sandra, 2008).
Zea
stands for ‘sustaining life’and Mays stands for ‘life giver’ Zea mays is one of
the oldest and most dynamic crop species, which has gained popularity in modern
world too, due to its applications in diverse dishes. Corn is produced in every continent of the
world with the exception of Antarctica.It is an annual monoecious sunny plant,
surviving perfectly in nutrient rich, well-drained soil. Each and every part of
the corn, from husk to corn silk is beneficial for the society. There are more
than 3,500 different uses for corn products. Corn does much more than feed
people and livestock. The plant contains
alkaloids, flavonoids, saponins, maizenic acid, vitamins B1, K and minerals
like potassium, phosphorous and zinc. Traditionally, Maize is used as an analgesic,
anti-diarrheal, anti-prostatitic,anti-lithiasis, anti-tumor, anti-hypertensive,
anti-diabetic, anti- hyperlipidemic, anti-inflammatory and anti-oxidant. In
this review article, we have narrated miscellaneous uses of corn varieties and
described the pharmacological activities, and traditional uses of maize. The
maize has assorted uses like culinary, medicinal and industrial. Corn dishes
like corn-meal, corn-flakes, popcorn, “makki ki roti” and corn soup highlight
its dominance all over the world. Therefore, maize has become a craze among
modern youth (Parle Milind. 2013).
Sweet
corn (Zea mays L. var. rugosa Bonaf.) eaten in the immature stage, is widely
used for human consumption throughout the world. It is an important source of
fiber, minerals, and certain vitamins. It is produced for three dis-tinct
markets; fresh, canning, and freezing.Production within these markets is
largely independent of each other. Newly developed products such as sweet corn
milk and soups are gaining popularity in many countries. New varie-ties of
sweet corn have been developed with improved con-sistency, taste and shelf
life. The adoption of newer “high sugar or sweeter” varieties with longer shelf
life and new sweet corn products have increased sweet corn consump-tion and
have helped to further expand the market. Sweet corn eating quality of fresh or
processed whole-kernels, canned or frozen, is determined by its unique
com-bination of flavor, texture, and aroma. Sweetness is the most important
factor in consumer satisfaction with sweet corn (Evensen and Boyer 1986). It
makes up most of flavor and depends largely on kernel sucrose content. Texture
is determined primarily by pericarp tenderness, levels of water soluble
polysaccharides (phytoglycogen), and kernel mois-ture content. The contents of
this mini-review are about the economic value of sweet corn, types of important
endosperm mutants, and the development of sweet corn breeding for sweetness (Kamol
Lertrat, 2007).
METODE
PRAKTIKUM
Praktikum
Pemuliaan Tanaman tentang Persilangan Jagung dilaksanakan mulai tanggal 20
september 2014 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Syiah
Kuala,Darussalam,Banda Aceh.
Bahan
yang digunakan yaitu tanaman jagung (Zea mays),berupa populasi tanaman
jagung manis varietas Bonanza dan Jagung putih Varietas Srikandi.Alat yang
digunakan yaitu perlengkapan polinasi (kantung kertas,gunting,label,paper clip,kuas,staples,tali/benang). Pada metode ini bunga jantan maupun
bunga betina dilakukan
pembungkusan.Pembungkusan dilakukan
sebelum bunga mekar menggunakan
kantong kertas yang bertujuan untuk
menghalangi terjadinya penyerbukan lain. Malai
(Serbuk sari) yang keluar dari pucuk tanaman ditutup (sungkup) menggunakan kantong kertas pada sore hari.
Sedangkan untuk bunga betina
(tongkol), disungkup sebelum
kepala putih (rambut jagung)
keluar. Pada hari berikutnya
tongkol diperiksa untuk
melihat perkembangan pada
rambut jagung. Rambut jagung
yang sudah tinggi dan panjang dipotong
menggunakan gunting setinggi ± 1–2
cm di atas
permukaan ujung kelobot.
Pemotongan ini dilakukan untuk
mencegah rambut tongkol keluar dari
kantong sehingga nantinya ditakutkan terjadi
penyerbukan yang tidak diinginkan.
Pemotongan dilakukan 2-3 kali sampai seluruh rambur tongkol
telah keluar. Tongkol yang
seluruh rambutnya telah
keluar dari klobot menunjukkan bahwa
tongkol tersebut siap diserbuki.
Malai bunga jantan yang
telah disungkup dikumpulkan
serbuk sarinya dengan cara mengambil kertas kuning yang
telah ditutup pada malai jagung .Sebelum di ambil harus dipukul-pukul pelan
agar serbuk sarinya jatuh dan penyerbukan buatan dilakukan pada pagi hari
karena penyerbukan memerlukan cahaya matahari.Serbuk sari ini
digunakan sebagai tetua jantan.Penyerbukan buatan dilakukan
dengan cara menaburkan serbuk sari (pollen) yang
telah terkumpul di dalam amplop tersebut di atas
permukaan potongan rambut jagung. Prosedur ini
dapat diulang 2—3
kali (menggunakan pollen
dari tetua yang sama)
untuk meyakinkan seluruh putik telah
terserbuki. Tanda-tanda bahwabunga
jantan siap diserbuki adalah serbuk
sari yang
melekat pada kantong berwarna kuning. Persilangan
yang dilakukan antara lain:
♀ jagung manis X
♂ jagung manis (selfing),
♀ jagung putih X
♂ jagung putih (selfing),
♀ jagung manis X
♂ jagung putih (crossing),
♀ jagung putih X
♂ jagung manis (crossing resiprok).
HASIL
PENGAMATAN
Betina × Jantan
|
Jumlah bulir
|
||||||||
Ungu
|
Merah
|
Kuning
|
Putih
|
Total Bulir
|
|||||
Jumlah
|
%
|
Jumlah
|
%
|
Jumlah
|
%
|
Jumlah
|
%
|
||
Putih × Putih (Selfing)
|
|||||||||
Manis × Manis (Selfing)
|
|||||||||
Manis × Putih (Crossing)
|
|||||||||
Putih × Manis (Crossing resiprok)
|
|||||||||
PEMBAHASAN
Pada
percobaan ini dilakukan penyerbukan jagung dengan bantuan manusia, habitat pada
umumnya penyerbukan jagung bersifat bebas dan dibantu oleh angin maupun
serangga seperti lebah kecil. Jagung termasuk tanaman berputik tunggal, dimana
benang sari dan putik berada dalam satu tanaman namun berbeda bunga. Faktor
utama yang berpengaruh terhadap keberhasilan persilangan adalah waktu dan proses
penyerbukan yang dilakukan. Waktu yang optimal untuk melakukan proses
penyerbukan pada tanaman jagung adalah pada pagi hari yaitu antara pukul 06.00
hingga pukul 09.00 WIB. Faktor lainnya adalah proses penyerbukan, setelah
serbuk sari jagung diserbukkan ke tongkol jagung harus segera ditutup rapat
dengan sungkup untuk melindungi jagung betina (tongkol) agar serbuk sari
(malai) dari tanaman jagung lain tidak dapat mengenai putik jagung betina
tersebut. Selain itu untuk menghindari adanya kemungkinan pencucian.
Pengetahuan tentang aksi gen yang mengendalikan suatu karakter sangat penting
terutama dalam hal keefektifan penerapan program seleksi yang
akan digunakan dalam kegiatan pemuliaan untuk karakter yang diinginkan.
Faktor biji kisut (kosong) selain disebabkan oleh faktor genetik, kemungkinan
besar bisa saja terjadi bila jagung terlalu lama dipanen dan malai belum cukup
matang untuk menyerbuki putik di dalam tongkol jagung melalui media
rambut.Pada dataran rendah, umur jagung
berkisar antara 3-4 bulan, tetapi di dataran tinggi di
atas 1000 mdpl berumur 4-5
bulan.Adapun beberapa gangguan dari faktor luar seperti adanya serangga vektor
penyakit, ulat pemakan biji jagungsehingga tongkol kosong dan hujan
berkepanjangan pada saat masa penyerbukan (generatif) yang menyebabkan
timbulnya jamur.
Pada
tanaman jagung, warna bulir ungu lebih dominan dibandingkan warna bulir putih.
Jika terjadi perkawinan antara jagung bulir ungu dengan jagung bulir putih maka
keturunan pertamanya (F1) akan berwarna ungu dan akan ada sedikit campuran
warna putih apabila penyerbukan kurang merata atau tidak memenuhi syarat.
Perkawinan
antara jagung ungu dan jagung putih
dilakukan melalui kombinasi persilangan (♀ Putih X ♂ Putih), (♀ Putih X ♂
Ungu), (♀Ungu X ♂ Putih), dan (♀ Ungu X ♂ Ungu). Pada tanaman jagung
penyerbukan dilakukan dengan kondisi yang layak untuk penyerbukan berdasarkan
ciri-ciri bunga jantan memiliki benangsari (malai) baik, sehat, belum berbunga
serta tidak terserang hama untuk menjaganya maka dilakukan proses penutupan
menggunakan kertas sampul. Setelah benang sari sudah terkumpul, gamet betinanya
adalah jagung putih yang berwarna putih dan siap diserbuki (2-3 hari setelah
pengrodongan) dengan sebelumnya dilakukan sterilisasi terhadap benang sari
bebas sehingga penyerbukan dapat diamati dengan baik dan dan sesuai dengan
metode penyerbukan silang.
Pada
pembastaran jagung dengan bulir (♀ Putih X ♂ Ungu) dan (♀Ungu X ♂ Putih),
terjadi penyimpangan oleh persilangan (♀ Putih X ♂ Ungu) yang menghasilkan
jagung dengan.
Tanaman
hasil persilangan selfing jagung ungu menghasilkan bulir dengan persentase 43%
ungu, 17% merah, 23% kuning dan 17% putih. Persilangan selfing menghasilkan
bulir jagung yang maksimal dengan adanya dukungan lingkungan terhadap kondisi
jagung sehat tidak terserang hama maupun berjamur dan malai jagung ungu layak
untuk penyerbukan dengan kondisi tepungnya yang banyak dan matang, sehingga
rambut putik dapat diserbuki dengan mudah. Pada persilangan ini gen warna ungu
pada biji jagung bersifat dominan. Bulir jagung yang dihasilkan menjadi
bermacam – macam padahal menurut teori bulir jagung hasil persilangan (selfing)
tetuah ungu akan menghasilkan jagung warna ungu 100%. Hal ini disebabkankarena
kebocoran pada saat melakukan pengrodongan di mana pemilihan tongkol jagung
telah berambut dan sedikit terkontaminasi dari malai tanaman jagung di
sekitarnya maupun karena pemilihan tetuah jagung ungu yang ditanam bukan
merupakan galur murni.Galur murni dihasilkan
dari penyerbukan sendiri
hingga diperoleh tanaman yang
homozigot. Hal ini umumnya memerlukan waktu lima hingga tujuh generasi
penyerbukan sendiri yang terkontrol.
Pada awalnya, galur murni dibentuk dari varietas menyerbuk terbuka
(openpollinatedvarieties) tetapi belakangan ini, galur murni dibentuk dari
banyak sumber yang lain seperti seperti varietas sintetik, varietas komposit,
atau populasi generasi lanjut dari hibrida. Selain mengalami penurunan vigor,
individu tanaman yang di serbuk sendiri menampakkan berbagai
kekurangan seperti: tanaman
bertambah pendek, cenderung
rebah, peka terhadap penyakit, dan bermacam-macam karakter lain yang tidak
diinginkan. Munculnya fenomena-fenomena
tersebut dikenal dengan istilah depresi tangkar dalam atau inbreedingdepression
(Singh, 1987).Pada persilangan ini dapat dikatakan berhasil karena hasil yang
didapatkan cukup mendekati harapan dengan selisih kesalahan dengan harapan
hanya 58,8%. Hasil ini sesuai dengan teori dimana pengaruh gamet jantan
langsung tampak pada F1 meskipun masih terjadi kontaminasi dengan serbuk sari
jagung warna lainnya.
Tanaman
jagung putih yang diserbuk sendiri(selfing) menghasilkan 100% bulir putih,
namun hampir ± 20% tidak menghasilkan bulir. Kondisi jagung yang nampak
berongga - rongga disebabkan karena penyerbukan yang tidak merata akibat dari
jumlah malai yang belum mencukupi dan belum matang sepenuhnya. Kekeringan juga
dapat mempengaruhi kecepatan fotosintesis, di mana dapat menurunkan persediaan
aliran asimilat. Aliran asimilat untuk pertumbuhan organ-organ menurun, sejak
perkembangan rambut (silk) selama seminggu sebagai sink. Pertumbuhan rambut
(silk) akan tertunda, anthesissilking interval (ASI) meningkat, sehingga
mempengaruhi polinasi. Struktur organ reproduktif betina lebih peka dari pada
malai, malai lebih awal rusak apabila suhu tanaman mencapai 38oC. Aborsi
tongkol dan aborsi biji meningkat sehingga tongkol tanaman menjadi hampa
(Zaidi, etal,2002).Persilangan ini dianggap berhasil karena hasil ini sesuai
dengan teori dimana pengaruh gamet jantan langsung tampak pada F1.
Kondisi
cuaca pada saat melakukan percobaan ini didominasi oleh curah hujan yang tinggi
sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman kurang maksimal. Radiasi dan
panjang penyinaran sinar matahari yang kurang akibat tertutupi oleh awan mendung
sehingga fotosintesis yang dilakukan relatif lebih sedikit. Kelembaban yang
meningkat disertai kenaikan volume air dalam tanah mengakibatkan proses
evapotranspirasi yang kecil dan penyerapan air oleh akar relatif lebih sedikit
sehingga dimungkinkan terjadi pembusukan akar. Gardner etal. (1985) menyatakan
bahwa kondisi lingkungan selalu mempengaruhi tanaman untuk mengekspresikan
potensi genetiknya. Tanaman menunjukkan respon yang berbeda terhadap
kompleksitas lingkungan.
KESIMPULAN
1. Keberhasilan
hasil penyerbukan sangat dipengaruhi oleh proses penyerbukan dan tetuah tanaman
tersebut.
2. Jagung
merupakan tanaman yang dapat melakukan penyerbukan sendiri maupun penyerbukan
silang.
3. Urutan
dominansi warna bulir jagung adalah dari yang paling dominan yaitu ungu, merah,
kuning, dan putih.
4. Galur
murni akan menampilkan sifat-sifat dominan maupun sifat-sifat resesif dari
suatu karakter tertentu. Bila
disilangkan, F1 akan mempunyaikedua macam alele tetapi menampakkan sifat
dominan (apabila dominan lengkap).
5. Apabila
tetuah tanaman bukan merupakan galur murni maka akan memperbesar terjadinya
penyimpangan pada keturunannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Allard, R.W., 1992. PemuliaanTanaman. Rhineka cipta :
Jakarta
Kamol, L. 2007. Breeding Research Center for Sustainable Agriculture. Khon
Kaen University : Thailand
Parle Milind. 2013. 4
(6) Page 39. International research journal of pharmacy
Rukmana, H. R. 1997. Usaha Tani Jagung. Kanisius. Jakarta
Sandra, E. 2008. Teknik Persilangan.
(http://eshaflora.com/index. php?option=com content
&task=view&id=63&Itemid=61). Diakses pada tanggal 2 Januari 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar